Mempergunakan Kebaikan Orang Baik

Mempergunakan Kebaikan Orang Baik
Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada orang yang wajahnya ramah, tutur katanya lembut, dan hatinya lapang. Orang seperti ini biasanya sulit berkata “tidak”. Maka setiap kali ada yang datang meminta bantuan, ia hampir selalu memberi, walau kadang sebenarnya ia sendiri sedang kesusahan.
Namun, ada pula orang yang melihat kebaikan itu bukan sebagai amanah, melainkan sebagai celah. Ia datang berhutang, dengan janji manis akan segera melunasi. Setelah itu, ia datang lagi, meminta sedikit demi sedikit. Ia yakin, “Ah, orang baik mana mungkin menolak?”
Begitulah seterusnya. Dari satu orang baik ke orang baik lainnya, ia terus berpindah, mencari celah, mempergunakan kelapangan hati orang lain untuk kepentingan dirinya.
Padahal, kebaikan bukan untuk diperalat. Kebaikan adalah cahaya. Bila cahaya itu kita manfaatkan untuk menutupi kebohongan, maka sesungguhnya kita sedang berjalan dalam kegelapan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini menegaskan bahwa mengambil hak orang lain dengan cara licik, sekalipun lewat pintu kebaikan, tetaplah sebuah kebatilan.
Coba kita bayangkan, di sebuah kampung, ada seorang lelaki bernama Hasan. Hampir semua tetangganya mengenalnya sebagai “si pandai berhutang”. Bila ada hajatan, ia datang bukan sekadar untuk makan, tetapi juga untuk meminjam uang dengan seribu alasan.
“Besok saya kembalikan, Pak,” katanya manis.
“Cuma sebentar, Bu, untuk beli susu anak,” ujarnya lembut.
Awalnya, para tetangga percaya. Hasan memang selalu tampak tulus. Namun, janji tinggal janji. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan hutang tak juga dilunasi.
Suatu hari, ketika Hasan benar-benar kesulitan, ia kembali mengetuk pintu tetangga. Kali ini, pintu itu tak kunjung dibuka. Rupanya, orang-orang sudah mulai jera. Hasan pun termenung, menyadari bahwa terlalu sering mempergunakan kebaikan orang lain justru membuat dirinya kehilangan kepercayaan.
Orang yang mempergunakan kebaikan orang lain untuk berbuat jahat, sesungguhnya sedang mengikis keberkahan dalam hidupnya sendiri. Rezekinya mungkin terasa banyak, tetapi hatinya sempit. Langkahnya mungkin terasa mudah, tetapi jalannya jauh dari ridha Allah.
Sebaliknya, orang baik yang sering dimanfaatkan janganlah berkecil hati. Ingatlah bahwa setiap pemberian, setiap uluran tangan, tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Jika kebaikanmu diperalat manusia, tetaplah yakin bahwa Allah tidak pernah salah dalam mencatat amalmu.
Maka, jadilah orang baik yang cerdas. Bukan berarti berhenti memberi, tetapi memberi dengan bijaksana. Sesekali berkata “tidak” juga bagian dari menjaga kebaikan. Karena kasih sayang sejati bukan hanya ketika kita membantu, tetapi juga ketika kita mendidik agar orang lain tidak terbiasa memanfaatkan.
Dan bagi yang terbiasa mempergunakan kebaikan orang lain, ingatlah: kebaikan itu titipan. Jangan sampai suatu hari ketika engkau benar-benar butuh, Allah menutup pintu hati orang-orang baik dari dirimu.
(By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar