By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Pernikahan bukan sekadar akad dan pesta. Bukan pula semata-mata berbagi tempat tidur dan tanggung jawab harian. Di balik semua itu, pernikahan adalah cermin ibadah, ladang pahala, dan jalan panjang menuju Jannah, jika kita menyadarinya.
Untukmu yang Belum Menikah
Jangan biarkan dunia menggiringmu pada maksiat hanya karena takut menikah. Jangan pula menunda dengan alasan menunggu sempurna, karena pernikahan bukan tentang kesiapan segalanya, tapi tentang kesanggupan untuk tumbuh bersama.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menikahlah dengan niat suci, Untuk menjaga diri dari zina. Untuk mengikuti sunnah Nabi SAW, Untuk membentuk rumah yang Allah berkahi.
Setiap niat yang benar dalam pernikahan adalah awal dari pahala yang tidak putus. Bahkan memandang pasangan dengan cinta, memberi makan, mencari nafkah, semua berubah menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah.
Untukmu yang Sudah Menikah
Tahukah kau, suamimu adalah ladang surga bagimu?
Tahukah kau, istrimu adalah amanah yang akan kau pertanggungjawabkan di akhirat?
Setiap sabar atas perbedaan, setiap pelukan setelah lelah, setiap doa yang kau bisikkan untuk pasanganmu—itu semua tak sia-sia.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka bertakwalah pada separuh sisanya.”
(HR. Al-Baihaqi)
Maka kuatkan niat dan luruskan tujuan. Jadikan rumahmu mihrab ibadah. Jadikan pasanganmu sahabat menuju surga.
Bukan sekadar “hidup bersama”, tapi “mati bersama dalam iman dan bangkit kembali sebagai pasangan yang bersatu dalam naungan rahmat Allah.”
Sebuah Doa dan Harapan
Ya Allah,
Jika kami belum menikah, kuatkan niat dan teguhkan langkah menuju yang halal.
Jika kami sudah menikah, jadikan pernikahan ini jalan dakwah, jalan pahala, dan jalan surga.
Kuatkan hati kami untuk saling menerima, saling menuntun dalam sabar dan syukur.
Dan jika kelak Engkau panggil kami dari dunia, panggil kami dalam keadaan saling menggenggam tangan menuju firdaus-Mu.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Karena menikah itu bukan soal “kapan dan dengan siapa”… tapi soal “bagaimana kau memaknainya untuk mengantarmu ke surga.” (Red)