KBBAceh.News | Banda Aceh – Kalau kita bicara tentang harga diri manusia, jangan buru-burulah kita hitung dari mobil yang diparkir di halaman rumah, atau dari bentuk alis yang simetris. Karena sesungguhnya, nilai manusia itu mirip dengan angka dalam matematika.
Pertama, akhlak.
Itu angka 1.
Tanpa ini, kita bukan apa-apa. Sombong dulu boleh, tapi coba cek dulu, angka satu sudah ada belum?
Lalu, kalau seseorang diberi kecantikan atau ketampanan, ditambah angka 0 di depan menjadi 10.
Ya, wajah menawan memang bisa bikin orang salah fokus… tapi tetap ingat: nilai itu muncul karena ada angka 1 di belakangnya.
Ditambah lagi kekayaan, kasih angka 0 lagi di belakang, naik kelaslah dia menjadi 100.
Rumah luas, mobil tiga warna, ponsel lebih mahal dari cicilan rumah orang.
Tapi kok tetap saja banyak yang tidak bahagia? Eits, jangan lupa, angka 1 tetap penentu.
Lalu ditambah nasab dan keturunan yang baik, boom! jadi 1000.
Anak ulama, cucu pejabat, ponakan sultan—semuanya nambah gengsi.
TAPI!
Coba hilangkan angka 1 alias akhlak.
Cantik ada, kekayaan ada, nasab baik ada… tapi tanpa akhlak?
0000 — dan itu bukan ribuan, tapi NOL besar.
Jadi jangan pernah terbalik:
Jangan bangga dulu karena ganteng, kaya, atau punya nama besar. Semua itu cuma angka 0 yang nempel ke akhlak. Kalau akhlaknya hilang? Ya sudahlah, sisanya tinggal ‘kosong melompong’.
Akhlak itulah angka 1 yang menentukan, bukan nol-nol yang cuma ikut nebeng.
Maka, sebelum sibuk merawat kulit wajah agar glowing, jangan lupa merawat hati supaya nggak error.
Sebelum mengejar kekayaan sampai lupa tidur, pastikan akhlak tidak ikut hilang dari diri sendiri.
Yang membuat kita bernilai bukan harta, rupa, atau jabatan — tapi akhlak baik yang tidak memandang siapa, tapi mampu memuliakan semua. (By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)