Pernyataan Berani Menteri Keuangan Purbaya ‘Ekonomi Kita Dicekik’ dan Penyelamatannya

Pernyataan Berani Menteri Keuangan Purbaya ‘Ekonomi Kita Dicekik’ dan Penyelamatannya
Pernyataan Berani Menteri Keuangan Purbaya ‘Ekonomi Kita Dicekik’ dan Penyelamatannya  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

KBBAceh.News | Jakarta – Ketika Angka Tak Lagi Menyembunyikan Luka

Ada saat ketika angka tak cukup menjelaskan kenyataan. Ketika grafik pertumbuhan tak mampu menutupi suara warung yang sepi, pasar yang lesu, dan sektor riil yang megap-megap.

Di tengah gegap gempita neraca dan rating, ada rakyat yang tak lagi merasa diwakili oleh angka.

“Ekonomi kita dicekik.”

Kalimat itu bukan retorika. Ia adalah pengakuan. Ia adalah koreksi. Ia adalah awal dari keberanian fiskal yang selama ini tertahan di balik disiplin anggaran dan ketakutan akan defisit.

Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru, tidak datang membawa naskah tebal. Ia datang membawa pengalaman krisis, luka sejarah, dan keberanian untuk bicara jujur.

Dan dari podium itu, ia mulai membuka pintu fiskal Indonesia yang selama ini terlalu rapat dijaga oleh angka, tapi terlalu jauh dari rakyat.

Warisan yang Dicekik Angka

Yang ia maksud sederhana:

Ratusan triliun rupiah uang negara ditahan di Bank Indonesia

Pajak ditarik agresif, tapi belanja lambat

Bank lebih suka parkir dana daripada menyalurkan kredit

Sektor riil megap-megap

Rakyat jadi korban

Purbaya tahu rasanya. Ia pernah berdiri di tengah badai 1998, ketika bunga dinaikkan sampai 60% dan uang primer justru melonjak 100%. “Kita membiayai kehancuran ekonomi kita sendiri,” kenangnya getir.

Rp200 Triliun Ditebar, Tapi Tak Boleh Beli SBN

Kini, koreksi itu berlanjut. Kementerian Keuangan memastikan bahwa dana Rp200 triliun yang ditebar ke perbankan tidak boleh digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN). Ini bukan sekadar teknis. Ini adalah pergeseran paradigma.

Selama ini, bank cenderung bermain aman: menggunakan dana pemerintah untuk membeli SBN, bukan menyalurkan kredit. Hasilnya: uang berputar di lingkaran negara, tapi tidak menyentuh rakyat.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menyebut praktik itu “counterproductive.”

Langkah ini menandai pergeseran dari moneter pasif ke fiskal aktif. Dana yang sebelumnya mengendap di BI dan reverse repo kini diarahkan untuk menyapa sektor riil.

Soemitronomics: Dari Teori ke Tindakan

Di artikel sebelumnya, Soemitronomics disebut bukan sekadar nostalgia atas nama besar Soemitro Djojohadikusumo. Ia adalah manifesto fiskal baru: belanja berani, kemandirian ekonomi, dan keberpihakan pada sektor riil.

Kini, Purbaya mulai mewujudkannya. Bukan dengan seminar, tapi dengan tindakan:

Rp100 triliun sudah dipulangkan ke sistem perbankan  Belanja anggaran dipercepat, dengan monitoring publik bulanan  Sektor swasta diberi ruang bernapas, bukan dikendalikan  Dana Rp200 triliun ditebar, tapi diarahkan untuk kredit produktif, bukan portofolio aman

Ia menyebut bahwa jika dua mesin, fiskal dan moneter, bekerja seirama, pertumbuhan 6% lebih bukan lagi mimpi.

Kejujuran yang Tak Nyaman, Tapi Perlu

Purbaya tahu ucapannya bisa dianggap sombong. Tapi ia tidak peduli. “Saya harus jujur. Kalau tidak, kita akan ulangi kesalahan yang sama,” ucapnya.

Dan hari itu, ia tidak hanya bicara. Ia membuka pintu fiskal Indonesia yang selama ini dijaga terlalu rapat.

Ia membiarkan angin segar masuk ke sektor riil. Ia mengajak publik untuk tidak hanya berharap, tapi juga mengawasi.

Penutup: Dari Gerbang IMF ke Pintu Sendiri

Sri Mulyani pamit dengan tenang. Tapi Purbaya datang dengan keberanian. Ia tidak sedang membantah pribadi, tapi membongkar sistem. Dan dalam ruang publik yang sering penuh basa-basi, keberanian seperti ini adalah cahaya.

Kita sedang menyaksikan bukan hanya reshuffle, tapi koreksi sejarah. Harapan adalah bahan bakar. Tapi pengawasan adalah rem yang menjaga arah.

Selamat datang di babak lanjutan Soemitronomics.  Bukan lagi teori. Tapi keberanian yang sedang diuji.  Di tengah meja, bukan lagi di pinggir.

Penulis: Merza Gamal (Pemerhati Sosial Ekonomi Syariah)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar