Rumah Sebagai Benteng: Menjaga Keluarga dari Gelombang Zaman

Rumah Sebagai Benteng: Menjaga Keluarga dari Gelombang Zaman
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Hidup di zaman modern ibarat mengarungi lautan luas dengan ombak yang tak henti bergelombang. Ada kapal yang kuat, ada yang rapuh. Kapal itu adalah keluarga kita. Jika nahkoda lalai, jika awak tak saling menguatkan, kapal bisa karam ditelan badai. Begitulah keluarga di tengah arus modernitas: ada peluang untuk sampai ke tujuan dengan selamat, tapi juga ada ancaman tenggelam jika tidak berhati-hati.
Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Kalimat ini sederhana, tapi maknanya dalam sekali. Allah tidak hanya menyuruh kita menjaga diri, tapi juga keluarga. Karena keluarga adalah amanah, bukan sekadar kumpulan orang yang tinggal serumah.
Kesadaran Diri: Kunci dari Segalanya
Kadang kita sibuk mencari cara membuat keluarga bahagia, tapi lupa satu hal: kebahagiaan itu lahir dari kesadaran diri. Ibarat rumah, tiang-tiangnya harus kokoh dulu sebelum atapnya bisa meneduhkan.
Ayah sadar bahwa ia bukan sekadar pencari nafkah, tapi juga imam yang menuntun keluarganya ke arah Allah.
Ibu sadar bahwa kasih sayangnya adalah jembatan agar anak-anak merasakan rahmat Allah.
Anak-anak sadar bahwa bakti mereka bukan hanya soal membantu orang tua, tapi juga jalan menuju ridha Allah.
Kesadaran ini menjadi cahaya yang menuntun, sehingga keluarga tidak mudah goyah walau diterpa arus modern yang deras.
Coba kita bayangkan Hidup modern menawarkan banyak “lampu neon” yang gemerlap, tapi tidak semua memberi cahaya sejati. Ada yang hanya silau sesaat, lalu padam dan meninggalkan gelap.
Keluarga yang tidak punya fondasi iman ibarat rumah kaca di bawah terik matahari: dari luar tampak indah, tapi mudah retak saat diterpa badai. Sebaliknya, keluarga yang berpegang pada nilai-nilai Allah seperti pohon besar yang berakar kuat. Angin sekencang apapun, pohon itu tetap berdiri.
Langkah Kecil yang Bermakna
Menjaga keluarga dari api neraka bukanlah hal mustahil. Kadang bukan dengan hal besar, tapi dengan langkah-langkah kecil yang konsisten:
– Menyempatkan shalat berjamaah di rumah meski hanya Maghrib.
– Menyapa anak dengan lembut ketika pulang, bukan hanya menanyakan nilai rapor.
– Membatasi gawai bukan karena melarang, tapi karena ingin menyelamatkan mata dan hati.
– Membaca Al-Qur’an bersama walau hanya satu halaman, tapi dilakukan rutin.
Langkah kecil ini seperti tetesan air. Mungkin tampak remeh, tapi tetesan yang terus jatuh bisa melubangi batu.
Maka dari itu, Keluarga sakinah bukan keluarga yang sempurna tanpa masalah. Justru mereka adalah keluarga yang sadar bahwa masalah adalah bagian dari ujian, dan memilih untuk menghadapinya bersama dengan iman dan kesabaran.
Maka, mari kita rawat keluarga seperti merawat taman. Rumput liar harus dicabut, bunga harus disirami, pohon harus dipangkas. Jika dibiarkan, taman akan rusak. Tapi jika dirawat dengan cinta dan doa, ia akan tumbuh indah, meneduhkan, dan kelak menjadi alasan Allah jauhkan kita dari api neraka. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar