Tapaktuan, KBBAceh.news – Setelah Teuku Raja Angkasah gugur pada tanggal 8 Desember 1925, perang gerilya dilanjutkan secara sporadis yang dipimpin oleh Teuku Cut Ali dan Teuku Mulod. Teuku Cut Ali adalah tokoh pejuang yang sejak awal abad XX telah menjadi panglima dalam barisan perlawanan yang dipimpin oleh Teuku Ben Mahmud.
Ia ikut dalam berbagai penyerbuan di Aceh Selatan. Perlawanan yang dipimpin oleh Teuku Cut Ali antara tahun 1926 hingga 1927 telah merepotkan Belanda. Hal ini mudah dimengerti, karena selain sebagai seorang ahli taktik perang gerilya, Teuku Cut Ali juga merupakan tokoh yang dikagumi, baik oleh kawan maupun oleh lawan.
Dalam waktu yang begitu singkat, Teuku Cut Ali berhasil mengadakan konsolidasi dengan para pengikutnya untuk menentukan sikap terhadap Belanda.
Beberapa pengikutnya antara lain Teuku Mulod, Panglima Sabi, Panglima Paneuk, Panglima Pateng, dan Teungku Jakfar. Masing-masing panglima tersebut telah memainkan peran dalam berbagai peristiwa melawan pasukan Belanda di Aceh Selatan.
Menurut sebuah sumber, Teungku Abdullah Ibnu Ajad adalah guru spiritual Teuku Cut Ali dan para pengikutnya. Ilmu yang diambil dari Teungku Abdullah Ibnu Ajad dipergunakan Cut Ali untuk melawan Belanda.
Ia juga mengatakan postur tubuh Teuku Cut Ali tergolong pendek, agak bungkuk udang, berkulit kuning langsat, wajahnya bulat telur, berhidung mancung, berkumis tebal, dan sorot matanyanya sangat tajam.
Hampir setiap hari ia memakai kopiah hitam, terkadang menggunakan kain sorban yang dililitkan di kepala. Selain memiliki ilmu kebal, Teuku Cut Ali juga sangat piawai bermain pencak silat dan tergolong pendiam. Kemana pun ia pergi, seekor kera tampak bertengger di bahunya.
Apabila berjalan bersama puluhan pengikutnya, Belanda jarang mengetahui kalau Teuku Cut Ali berada diantara pengikutnya. Tubuh Teuku Cut Ali tampak paling kecil dan penampilannya terkesan agak loyo. Belanda hampir tak percaya jika Teuku Cut Ali adalah seorang panglima yang perkasa dan gagah berani!
Pada tanggal 8 Desember 1926 pukul 22.00 pasukan Teuku Cut Ali menuju Ruak (Kluet Utara) dan menyempatkan diri menemui Teungku Abdullah Ibnu Ajad di daerah hutan karet yang tidak diketahui Belanda.
Pada pertemuan itu, Teuku Cut Ali dan seluruh pengikutnya sempat diberi nasi bungkus oleh istri Teungku Abdullah Ibnu Ajad. Seusai makan, Teungku Cut Ali dan pengikutnya meminta tambahan ilmu kebatinan kepada Ibnu Ajad, mengingat posisi mereka saat itu sedang terjepit akibat dikejar tentara marsose.
Juga dalam pertemuan itu Ibnu Ajad memberikan sebelah pedang kepada Teuku Cut Ali. Pedang itulah yang selalu digunakan Teuku Cut Ali dalam setiap pertempuran melawan Belanda.
Menurut informasi terakhir (Kamis 26 Februari 2009), penulis (DARUL QUTNI CH) penerima kabar bahwa pedang Teuku Cut Ali itu kini masih ada tersimpan kepada salah seorang keturunannya di Trumon, Aceh Selatan.
Bersemangatnya pihak Belanda melakukan pengejaran terhadap Teuku Cut Ali dan pengikutnya, karena pada tanggal 3 April 1926 pasukan Teuku Cut Ali berhasil menewaskan seorang Kapten Belanda bernama J. Paris.
Tewasnya Kapten Paris merupakan akibat serangan sekelompok gerilyawan di kawasan hutan Gampong Sapik dan Durian Kawan, Kluet Timur dekat sebuah pohon besar bernama kelulum, yang dipimpin oleh Banta Saidi yang bergelar Panglima Raja Lelo. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Kelulum.
Dalam peperangan ini, 19 orang pasukan Panglima Raja Lelo gugur. Pertempuran seru terjadi ketika Banta Saidi atau Panglima Raja Lelo berhadapan dengan Kapten Paris. Keduanya sama-sama memiliki ilmu kekebalan. Saat itu, puluhan butir peluru yang menerjang tubuh Raja Lelo tidak mempan/mampu melukai tubuhnya.
Demikian juga sebaliknya, puluhan kali Banta Saidi menebaskan pedangnya, namun tidak mampu melukai tubuh Kapten Paris yang juga memiliki ilmu kebatinan.
Panglima Raja Lelo dan Kapten Paris beradu gulat. Pertarungan sangat sengit dan seru. Mereka saling banting, saling pukul, dan saling terjang. Karena kesaktian Banta Saidi atau Panglima Raja Lelo berhasil menemukan kelemahan kesaktian Kapten Paris.
Panglima Raja Lelo segera memagut tubuh Kapten Paris sambil memegang dan memutar (maaf) alat vital Kapten Paris. Saat itu juga kapten yang kebal dan sakti itu tewas.
Gambaran kejadian yang menciutkan nyali pasukan marsose dalam Perang Kelulum itu dapat diungkapkan dalam bait syair Aceh berikut ini.
Prang Bakongan seuhu hana kri
Kaphee neu tadi keunong bak jungka
Matee Angkasah tinggay Cut Ali
Prang teu-jali leubeh nubura
Bahasa Indonesianya:
(Perang Bakongan geloranya tidak habis-habisnya
Pasukan kafir Belanda itu dibantai hingga musnah
Meninggal Angkasah dilanjutkan oleh Cut Ali, perangpun semakin hebat dan dahsyat}
Peudeung neu-gunci su meudeungong
Han jiteem tamong meuhana bila
Kapten Paris putoh taloy nyawong
Sakti Limong Raja Lela
Indonesianya:
(Kendati pedang di dalam sarung suaranya tetap
Mendengung membahana
Dengungnya tak berhenti jika tidak memenggal leher kafir Belanda
Kapten Paris putus tali nyawa dan tewas di tempat
Karena lima kesaktian Raja Lela.
Sejak kematian Kapten Paris, patroli tentara Belanda semakin ditingkatkan, apalagi sebelum Perang Kelulum pengikut Teuku Cut Ali banyak melakukan serangan terhadap Belanda. Serangan terjadi di dekat Laton, dibawah pimpinan Teuku Mulod dan Panglima Paneuk pada bulan Maret 1926.
Berita tewasnya Kapten Paris pada awal April 1926 sangat mengejutkan pemerintah Belanda di Kuta Raja. Belanda mengkosentrasikan perhatiannya pada Teuku Cut Ali.
Tapi Teuku Cut Ali bersama pasukannya telah bersembunyi di Alu Bebrang, Lawe Sawah, Kluet Timur. Dalam persembunyian itu selain sejumlah pengikutnya juga turut isteri Cut Ali yang bernama Fatimah yang sedang hamil yang ditemani seorang perempuan lain yang bernama Nyak Meutia.
Namun tempat persembunyian mereka diberitahu oleh salah seorang penebang pohon yang bernama Basyah karena diancam Belanda. Maka Kapten Gosenson mengerahkan pasukannya ke Alu Bebrang. Sesampai di lokasi pasukan belanda melepaskan tembakan secara membabi buta,
Dalam tembakan itu tewaslah isteri Cut Ali Fatimah dan Nyak Meutia dan beberapa pengikut Cut Ali lainnya. Melihat isterinya yang sedang hamil tua itu tewas tertembak, Teuku Cut Ali marah dan berteriak:
“Kafir kurang ajar! Kalian tega membunuh istri saya dan Nyak Meutia!”
Padahal ilmu yang diamalkannya melarang menyebut selain nama Allah dalam pertempuran, sehingga Teuku Cut Ali tertembak dan ilmu kebalnya tak mempan lagi saat itu. Anehnya, waktu itu Kapten Gosenson dan anak buahnya belum tahu yang mana jenazah Teuku Cut Ali. Sementara sejumlah jenazah para syuhada itu ditinggalkan begitu saja bergelimpangan di Alu Bebrang.
Menurut Panglima Untung (yang diwawancarai penulis Darul Qutni Ch di Lawesawah tahun 1993), berdasarkan sejumlah senjata yang dibawa pasukan Belanda, penduduk yang kenal Teuku Cut Ali memberitahukan Belanda bahwa Teuku Cut Ali telah tewas.
Semua jenazah pengikut Teuku Cut Ali dikebumikan di Alu Bebrang yang waktu itu semua jenazah dimandikan oleh Tambi, ayah Haji Abdul Salam BA (almarhum), mantan Camat Tangan-tangan atau mantan Ketua DPRK dan Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Selatan.
Setelah kepala Teuku Cut Ali dipenggal/dipotong oleh Belanda, bagian tubuhnya dikebumikan di Alu Bebrang, sementara bagian kepalanya di bawa turun ke Suaq Bakung di tepi sungai Kandang – Kluet Selatan. Sebelum ditanam, bagian kepala Teuku Cut diarak-arak keliling kota Suaq Bakung untuk dipertontonkan kepada masyarakat waktu itu, agar rakyat takut dan jera melakukan pemberontakan kepada Belanda.
Namun sebuah sumber lain mengatakan kepada penulis Darul Qutni Ch bagian kepala Teuku Cut Ali digali kembali di malam hari dan besoknya dibawa ke negeri Belanda dan sekarang masih ada di mesium Denhag – Belanda. Penelitian tentang benar tidaknya mengenai pemindahan bagian kepala Teuku Cut Ali ini perlu dibuktikan oleh pakar sejarah selanjutnya.
Untuk itu mohon kepada para pakar sejarah agar
menyelidiki tentang kebenaran sejarah Teuku Cut Ali ini dengan subsidi Pemda Aceh Selatan atau Pemerintah Aceh untuk pergi ke Amsterdam – Belanda- guna menemui catatan-catatan tentang perjuangan Teuku Cut Ali yang lebih kongktrit dan akurat.
Sekarang makam Teuku Cut Ali di Kandang – Kluet Selatan sudah dipugar dan tinggal lagi semua pihak, terutama Pemda Aceh Selatan agar segera menggelar seminar, supaya Teuku Cut Ali ini bisa diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Insya Allah.
DR. Fakhri Yacob, M.Ed – dosen Fakultas Tarbiyah Ar-Raniri – Banda Aceh yang juga salah seorang tim Pelaksana Focus Group Discussion Identitas Keacehan kepada Miswar, S.Pd agar Kesbang Linmas Aceh Selatan segera menyelenggarakan seminar tentang perjuangan Teuku Cut Ali.
“Setelah ada hasil seminar maka kita di propinsi akan mengajukan kepada gubernur supaya Teuku Cut Ali bisa diajukan sebagai pahlawan nasional,” kata DR. Fakhri Yacob, M.Ed.
Sementara Bestari Raden kepada Darul Qutni Ch mengakui pihaknya sudah pernah pergi ke Den Hak (Belanda) bersama Bupati Drs H. Sayed Mudhahar Ahmad, M.Si (almarhum) melihat bukti foto tengkorak kepala Teuku Cut Ali berada di meseum Belanda. “Ada fotonya saya simpan,” ujar Bestari.
Juga dalam kesempatan itu DR. Fakhri Yacob menyimpan sejumlah file tulisan Darul Qutni Ch, termasuk tulisan tentang perjuangan Teuku Cut Ali, Teuku Raja Angkasah dan file Buku Profil Budaya Aceh Selatan.
“Insya Allah kami akan membuat buku identitas Aceh Selatan ke dalam ke-Acehan di Banda Aceh, dan saat kami menuangkan tulisan Pak Qutni kami nanti akan menelepon Bapak jika ada yang perlu kami tanyakan kembali,” ucap M Nur Arfa, SE – salah seorang Tim Fokus Group Discussion.
Tim ini bukan saja mengupas tentang sejarah, tetapi juga membicarakan masalah keagamaan, budaya, seni dan tari tradisional, permainan dan cerita rakyat serta adat istiadat, “Semua Insya Allah akan kita bukukan,” ujar DR. Fakhri Yacob, M.Ed.
Sungguhpun demikian, selain Aceh Selatan mempunyai khazanah budaya, adat istiadat tiga etnis (Aceh, Kluet dan Aneuk Jamee) juga memiliki catatan sejarah para pahlawannya yang sudah ditulis dan dibukukan oleh Darul Qutni Ch dan bahkan sudah pernah disayembarakan pada lomba penulisan sejarah yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2000.
Justru buku sejarah yang ditulis Darul Qutni Ch ini mendapat predikat juara pertama Propinsi Aceh yang dilengkapi dan diperkuat dengan surat piagam penghargaan Nomor: 2394/A11.3/U/2000 tanggal 25 Nopember 2000 yang ditanda tangani oleh Kepala Pusat Perbukuan (Pusbuk) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Drs Agam Suchad, serta sudah diterbitkan oleh AdiCita Karya Nusa – Yogyakarta dan telah beredar di seluruh Indonesia – Sabang Meuroke!
Pada tahun ini pula, tepatnya di bulan Mei 2016 lalu Sejarah Perjuangan Teuku Cut Ali ditetapkan oleh Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Selatan untuk diperlombakan antar siswa SD/MI se-Kecamatan Tapaktuan, selain memperlombakan cerita Legenda Tapaktuan – yang keduanya karya Darul Qutni Ch,
Semoga lomba bercerita sejarah ini adalah salah satu motivasi semangat generasi kita berikutnya untuk menjaga keotentikan sejarah yang jelas dan pasti!
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai jasa pahlawannya, dan bangsa yang kerdil dan kecil adalah bangsa yang meremehkan atau bangsa yang merekayasa perjuangan para pahlawannya!
Semoga kita tidak termasuk bangsa yang kerdil dan bangsa yang sudah buta melihat peninggalan sejarah atau riwayat hidup para pejuang negerinya. Insya Allah semoga sinopsis ini ada manfaatnya, Aamiiin!
(Red)