Teruslah Berjalan, Meski Ada yang Membenci

Teruslah Berjalan, Meski Ada yang Membenci
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Dalam perjalanan hidup ini, sebaik apapun perilaku yang kita tampilkan, sebenar apapun niat yang kita persembahkan, selalu ada saja hati yang tidak suka, selalu ada mata yang menatap dengan kebencian. Itu adalah kenyataan yang tak bisa kita tolak. Karena kebencian bukanlah cermin diri kita, melainkan bayangan jiwa mereka yang masih terikat oleh iri, dengki, dan luka batin yang belum sembuh.
Maka janganlah berhenti hanya karena cibiran, janganlah mundur hanya karena fitnah. Hidup terlalu singkat jika kita habiskan untuk menjawab kebencian orang. Yang penting, kita tetap berjalan, tetap menapaki jalan kebaikan, tetap menanam benih amal, meski mungkin tak semua orang mau menyiraminya dengan doa.
Bangsa ini pun pernah merasakannya. Delapan puluh tahun lalu, saat Proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, bukan berarti jalan Indonesia langsung mulus tanpa tantangan. Justru sejak detik itu, muncul kebencian, ancaman, tekanan, bahkan perlawanan dari pihak-pihak yang tidak rela bangsa ini merdeka. Namun, para pejuang kita tidak berhenti. Mereka tahu bahwa setiap langkah ke depan adalah amanah untuk generasi setelahnya.
Kini, di usia ke-80 kemerdekaan, kita bisa belajar: kemerdekaan tidak lahir dari keramaian tepuk tangan, melainkan dari keberanian untuk terus berjalan meski ditentang. Kita pun, sebagai anak bangsa, harus memiliki semangat yang sama—melangkah maju, membangun kebaikan, meski ada yang meremehkan, mengkritik, bahkan membenci.
Kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi juga bebas dari belenggu kebencian manusia. Maka jadilah pribadi yang merdeka. Merdeka dari rasa takut pada hinaan. Merdeka dari beban ingin dipuji. Merdeka dari luka yang ditorehkan orang lain.
Ingatlah, bangsa ini berdiri kokoh karena para pendahulu tidak pernah berhenti berjalan, meski darah mereka mengalir, meski caci maki diarahkan. Maka, di momen Proklamasi ke-80 ini, mari kita warisi keberanian itu.
Teruslah berjalan. Karena setiap langkah kebaikanmu adalah bagian dari sejarah panjang bangsa ini—sejarah tentang manusia yang memilih untuk tidak berhenti, meski dunia tak selalu ramah menyambutnya. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar