KBBAceh.News | Meulaboh – Memasuki tahun 1893, kekuatan militer Teuku Umar semakin disegani. Ia berhasil menghimpun pasukan sekitar dua ribu orang bersenjata, yang dibagi ke dalam 15 Wilayah di bawah pimpinan para panglima. Struktur pasukan ini menunjukkan bahwa Umar bukan sekadar pejuang, melainkan juga seorang organisator ulung yang mampu mengatur strategi militer secara modern.

Dua panglima dari Seunagan : Pang Yatim dan Keuchik Abah.
Setahun kemudian, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar mengambil langkah besar dengan membentuk legiun khusus beranggotakan 250 orang. Legiun ini seluruhnya dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda, yang saat itu masih menganggap Umar sebagai sekutu.
Belanda mempersenjatai legiun tersebut dengan senapan modern—jenis senjata kokang dengan peluru yang dimasukkan dari belakang (breech-loading). Senjata jenis ini merupakan teknologi mutakhir pada masanya, jauh lebih unggul daripada senjata tradisional yang sebelumnya digunakan rakyat Aceh.

Veteran di Belanda Kaget dengan Umar kabur dan membawa senjata belanda
Kedudukan Teuku Umar saat itu berpusat di Lam Pisang, Mukim VI, sebuah lokasi strategis di lembah sempit. Dari sana terbentang satu-satunya jalur darat dari Ulee Lheue ke Krueng Raba di pantai barat. Posisi ini memberi keuntungan taktis besar: setiap gerakan militer Belanda ke pantai barat harus melewati jalur ini, sehingga Umar dapat mengendalikan arus logistik dan pasukan.
Namun, kecerdikan Teuku Umar mencapai puncaknya pada tahun 1896. Dengan berpura-pura setia sebagai sekutu Belanda, ia berhasil meraih kepercayaan penuh. Belanda memberinya logistik dan senjata dalam jumlah besar. Tetapi di balik itu, Umar menyusun rencana berani: membawa lari seluruh persenjataan modern yang diberikan kepadanya untuk kembali memperkuat barisan Aceh.
Dalam peristiwa inilah, ia berhasil mengamankan:
380 senapan kokang modern,
500 senapan lantak kuno,
25.000 butir peluru,
500 kilogram mesiu,
120.000 sumbu mesiu, dan
5.000 kilogram timah untuk membuat peluru tambahan.
Dengan perbekalan luar biasa ini, kekuatan militer Aceh kembali bernafas panjang. Apa yang oleh Belanda dicap sebagai “Het verraad van Teuku Umar” (Pengkhianatan Teuku Umar), oleh rakyat Aceh justru dikenang sebagai langkah brilian seorang panglima yang berhasil menipu musuh demi kepentingan bangsa.
Langkah Umar bukan hanya mempermalukan Belanda di Aceh, tetapi juga mengguncang opini publik di negeri Belanda sendiri. Surat kabar dan majalah ramai memberitakan bagaimana seorang panglima pribumi dapat memperdaya kekuatan kolonial yang dianggap perkasa. Dari tahun 1893 hingga 1896, Teuku Umar telah membuktikan bahwa perang bukan hanya soal senjata di medan laga, melainkan juga soal kecerdikan strategi, keberanian, dan kepiawaian membaca situasi. (Sumber, FB Teuku Ahmad Dadek)