Tujuan Pernikahan dan Keharmonisan Keluarga

Tujuan Pernikahan dan Keharmonisan Keluarga
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh. News | Tapaktuan – Allah berfirman dalam QS. Ar-Rūm ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Ayat ini adalah salah satu potret paling indah tentang keluarga dalam Al-Qur’an. Menariknya, Allah memulai dengan kata “wa min ayatihi” (dan di antara tanda-tanda-Nya). Artinya, keluarga bukan sekadar kontrak sosial, bukan sekadar urusan dunia, tetapi bagian dari tanda kebesaran Allah. Sama halnya dengan langit dan bumi, malam dan siang, hujan yang turun dan bumi yang gersang lalu hidup kembali—keluarga juga disebut sebagai ayat Allah.
Kalau langit luas membuat manusia kagum, seharusnya rumah tangga yang damai pun membuat manusia terpesona. Sayangnya, banyak orang yang lebih kagum dengan sunset di pantai dibandingkan dengan senyum pasangan di meja makan. Padahal, keduanya sama-sama tanda Allah.
Tiga Pilar Rumah Tangga
Dalam ayat itu Allah menyebutkan tiga kata kunci: sakinah, mawaddah, rahmah.
Sakinah berarti ketenangan. Bukan sekadar diam, tapi ketenangan yang membuat jiwa menemukan rumahnya. Suami merasa tenteram di sisi istri, istri merasa damai di pelukan suami.
Mawaddah adalah cinta yang membara, rasa rindu, hasrat ingin bersama, dan semangat yang menghidupkan hubungan.
Rahmah adalah kasih sayang. Kalau mawaddah itu api yang menyala, maka rahmah adalah air yang menyejukkan. Ketika cinta mulai meredup, rahmah menjaga agar rumah tangga tetap hidup.
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan: Allah menjadikan cinta dan kasih sayang itu agar manusia bisa hidup berdampingan, saling melengkapi. Al-Maraghi menambahkan: mawaddah itu cinta lahiriah, sementara rahmah itu kasih sayang batiniah. Quraish Shihab memberi penekanan yang menarik: mawaddah sering hadir di awal pernikahan, rahmah lebih dominan ketika usia mulai senja.
Artinya, rumah tangga yang sehat tidak bisa hanya bergantung pada perasaan cinta yang bergelora. Cinta bisa redup, tapi kasih sayang harus tetap menyala.
Umar bin Khattab pernah menasihati seorang suami yang ingin menceraikan istrinya hanya karena sudah tidak mencintainya lagi. Umar berkata:
“Apakah rumah tangga itu hanya dibangun atas dasar cinta? Bagaimana dengan kasih sayang dan rasa tanggung jawab?”
Kata-kata Umar ini tajam sekali. Ia seakan ingin mengingatkan: kalau cinta menjadi satu-satunya alasan menikah, maka banyak rumah tangga akan runtuh begitu api cinta padam. Tetapi bila tanggung jawab dan kasih sayang menjadi pondasi, rumah tangga akan bertahan melewati badai.
coba kita bayangkan pernikahan seperti taman. Di awal menikah, bunga-bunga berwarna-warni bermekaran—itulah mawaddah. Tapi seiring waktu, bunga bisa layu. Yang menjaga taman tetap hijau bukan semata bunga, melainkan tanah yang subur dan air yang terus mengalir—itulah rahmah.
Kalau kita jujur, banyak pasangan menikah karena mengejar mawaddah: wajah yang cantik, senyum yang menawan, suara yang lembut, atau gaya yang memikat. Tetapi berapa banyak yang menikah karena rahmah—karena ingin menolong, menyayangi, mendampingi dalam suka dan duka?
Pertanyaannya menggelitik: apakah kita menikahi pasangan kita karena cinta, atau karena takut sendiri? Karena mawaddah yang membara, atau karena rahmah yang meneduhkan?
Dan lebih jauh lagi, kalau Allah menyebut keluarga sebagai tanda kebesaran-Nya, lalu kenapa ada orang yang lebih bangga memamerkan sunset di Instagram daripada memamerkan doa bersama keluarga? Bukankah keduanya sama-sama pemandangan indah—satu di alam, satu di rumah?
Kesimpulan
Keluarga adalah ayat Allah. Ia hadir agar manusia menemukan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Cinta mungkin mekar dan layu, tetapi kasih sayang dan tanggung jawab harus tetap abadi. Maka jangan jadikan rumah tangga sekadar tempat singgah, jadikan ia taman yang terus disirami, hingga setiap orang di dalamnya merasa aman, damai, dan dicintai.
(By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar