Oleh : Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Dalam kehidupan, salah satu perbuatan paling merusak yang dapat kita lakukan adalah memperlakukan orang lain secara zalim. Ketidakadilan ini bukan hanya tentang mengambil hak orang lain dengan terang-terangan, tetapi juga melibatkan tindakan yang lebih halus seperti menyakiti perasaan mereka, merendahkan martabat mereka, dan memperlakukan mereka dengan cara yang tidak adil.
Seringkali, kita melihat banyak kehidupan yang terpuruk bukan karena kekurangan materi atau nasib buruk yang seolah menjadi takdir, melainkan karena dosa-dosa zalim yang sering kali terjadi tanpa disadari. Ketidakadilan yang dilakukan bisa merusak hubungan antar manusia, membuat keretakan dalam masyarakat, dan meninggalkan luka emosional yang dalam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu introspeksi dan berusaha adil dalam setiap tindakan dan keputusan kita, agar kita dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai.
Ketika seseorang merasa ditindas atau diperlakukan dengan tidak adil, sering kali tidak perlu mengumbar protes atau berteriak menuntut keadilan di hadapan manusia. Cukuplah baginya mengangkat tangan dalam doa, karena doanya yang tulus dapat menembus langit dan sampai ke hadapan Allah. Dialah yang Maha Mengetahui setiap luka hati dan perbuatan zalim yang dilakukan tanpa adil.
Seiring waktu, mungkin tanpa disadari, kehidupan orang yang suka menzalimi orang lain akan menjadi sempit, penuh dengan kesulitan dan permasalahan yang rumit. Mungkin ini adalah cara Allah mengatur keadilan-Nya, membalas setiap perbuatan tanpa harus ditimbang di meja pengadilan manusia. Dengan demikian, setiap doa dari hati yang terzalimi adalah senjata paling ampuh di hadapan ketidakadilan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Hati-hatilah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kezaliman tidak hanya merusak hubungan interpersonal dengan orang lain di sekitarnya, tetapi juga menciptakan iklim negatif yang mengakar dalam diri individu yang melakukannya.
Hati yang terbiasa keras, emosi yang mudah meluap dalam amarah, dan perasaan yang terus menerus diliputi ketidakpuasan adalah sejumlah akibat dari dosa kezaliman yang secara perlahan menumpuk dalam jiwa. Akhirnya, meskipun seseorang mungkin memiliki kekayaan yang melimpah dan kekuasaan yang luas, kehidupannya tetap saja terasa kosong dan tidak pernah mencapai ketenangan atau kedamaian sejati. Aura negatif yang dibawa oleh perilaku zalim ini membuatnya terjebak dalam lingkaran ketidakbahagiaan, yang tidak bisa diatasi oleh harta maupun jabatan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa zalim adalah perbuatan yang membakar kehidupan seseorang dari dalam. Sehebat apa pun kekuasaan dan hartanya, jika ia menzalimi sesama, kehancuran akan datang. Mari jadikan hidup ini penuh dengan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan agar kita hidup dalam keberkahan dan cinta Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 57)
(Redaksi)