By, DR. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada satu nasihat yang menembus relung hati paling dalam, dari seorang Nabi yang penuh kelembutan dan kasih:
“Ihsan itu bukan membalas kebaikan dengan kebaikan. Itu hanyalah balasan wajar. Ihsan sejati adalah ketika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.”
(Ucapan Nabi Isa βalaihis salam β Kitab az-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal)
Kalimat ini bukan sekadar mutiara kata. Ia adalah ujian bagi jiwa yang ingin tumbuh menuju derajat tertinggi dalam akhlak. Karena membalas senyum dengan senyum itu mudah. Tapi membalas luka dengan pelukan, itulah yang sulit. Dan di situlah letak keindahan ihsan.
Banyak orang terbiasa hidup dalam logika timbal balik:
Aku baik padamu karena kamu baik padaku.
Tapi bayangkan jika seorang petani hanya menyiram tanaman yang sudah berbuah. Bukankah tanaman yang belum berbuah justru lebih butuh disiram agar tumbuh?
Begitulah ihsan. Ia bukan investasi yang menanti imbalan. Ia adalah pancaran jiwa yang sudah tak butuh alasan untuk berbuat baik.
Orang sering mengira memaafkan dan membalas dengan kebaikan itu tanda kelemahan. Tapi sesungguhnya, di situlah letak kekuatan.
Orang yang marah itu biasa. Tapi orang yang mampu menahan amarah dan malah membalas dengan kasih, dialah pemilik jiwa besar.
Seperti batu yang dilempar ke danau. Danau itu tidak melempar balik. Ia hanya menciptakan riak kecil, lalu kembali tenang. Dan dari ketenangan itu, semua bisa bercermin.
Bayangkan seseorang menabur duri di jalanmu. Bukannya membalas, kamu justru membersihkan jalan itu dan menanam bunga di tempat yang sama.
Lalu suatu hari, orang itu lewat, terpesona oleh bunga yang mekar, dan perlahan hatinya luluh.
Begitulah kekuatan ihsan: ia mengubah hati keras menjadi lembut, tanpa paksaan, tanpa balasan.
Nabi Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya. Tapi ketika mereka datang meminta bantuan di masa sulit, Yusuf justru membuka pintu maaf dan memberi mereka makan.
Nabi Muhammad SAW. dihina dan dilukai di Thaif, tapi yang keluar dari lisannya adalah doa: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada mereka, karena mereka belum tahu.”
Ihsan bukan sekadar amal, tapi warisan jiwa dari para utusan Allah.
Ketika hatimu luka oleh perlakuan orang lain, jangan biarkan luka itu meracuni kebaikanmu. Jadilah seperti matahari: tetap menyinari, meski sering dicela oleh bayangan. Maka ketahuilah bahwa βBalas dendam itu ringan, tapi memaafkan itu membebaskan.β
βMenyakiti itu insting, tapi berbuat baik itu pilihan.βDan ihsan… adalah pilihan yang tak semua orang sanggup, tapi sangat dicintai Tuhan.β
Hari ini, dunia butuh lebih banyak orang yang mau menyalakan pelita, bukan membalas gelap dengan gelap.
Jika kamu diperlakukan buruk, jangan balas dengan buruk yang sama. Karena dua kesalahan tak pernah melahirkan kebaikan.
Jadilah pelita. Jadilah telaga. Jadilah penghapus luka.
Itulah ihsanβjalan para Nabi, dan jalan orang-orang yang ingin dekat dengan Allah.
Ingatlah saudaraku…
“Dan balasan dari kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tapi siapa yang memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya di sisi Allah⦔(QS. Asy-Syura: 40) (Red)