๐—ฃ๐˜‚๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ธ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป

๐—ฃ๐˜‚๐—ป๐—ฐ๐—ฎ๐—ธ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By Dr. Khairuddin, S.Ag., MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada banyak orang yang setiap kali mencapai sesuatuโ€”entah harta, jabatan, prestasi, atau bahkan hubunganโ€”akan merasa senang sesaat, namun kebahagiaan itu cepat sekali menguap, lalu digantikan dengan kekosongan yang sulit dijelaskan. Ini bisa disebut sebagai sindrom pencapaian hampa, “Mereka merasa “telah sampai”, namun hati berkata “masih jauh”. Mengapa demikian?
Hal-hal seperti jabatan, harta, atau pengakuan sosial memang bisa membahagiakan. Tapi jika tidak diiringi dengan pertumbuhan batin dan makna hidup yang lebih tinggi, maka itu hanya menyentuh permukaan diri, tidak sampai menyentuh pusat makna eksistensial seseorang. itulah seperti kata orang Ibarat meminum air laut: semakin banyak diminum, semakin haus.
Selanjutnya, bila seseorang hanya menganggap hidup sebagai daftar pencapaian (to-do list of success), bukan sebagai proses pengabdian (journey of meaning), maka keberhasilan tak akan membuatnya tenang. Karena jiwanya sebenarnya tidak mencari harta atau nama besarโ€”tapi mencari arti, arah, dan hubungan yang tulus.
Ketika nilai diri hanya ditentukan oleh capaian duniawi, maka ketika itu tak datang atau terasa biasa saja, dia merasa kosong. Bahkan ketika datang pun, ia tetap tidak bahagia, karena makna hidupnya bergantung pada penilaian luar, bukan pada hubungan vertikal (dengan Allah) dan kesadaran diri yang stabil.
Apa Artinya Jika Semua Terasa Biasa Saja?
Jika seseorang merasa bahwa semua pencapaian duniawi hanya memberi rasa biasa-biasa saja, ini bisa bermakna dua hal, pertama, Tanda kekosongan spiritual โ€“ bahwa dia belum menemukan makna sejati hidup, sehingga apapun yang didapat terasa hambar, Kedua, Tanda kedewasaan spiritual โ€“ justru karena dia sudah tak tergoda oleh gemerlap dunia. Ia tidak lagi terkesima oleh hal-hal duniawi karena jiwanya sedang naik level: mendamba sesuatu yang lebih tinggi, yaitu ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah.
Maka, daripada terus mengejar “apa lagi yang harus aku capai?”, lebih baik mulai bertanya:
Apa makna dari semua ini?, Untuk siapa aku melakukan ini?, Apakah aku hadir sepenuhnya dalam setiap amal, atau sekadar mengejar hasil?
Sahabatku..
Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tapi tentang seberapa dalam kita hadir.”
Orang yang merasa pencapaian hanya membuatnya bahagia sesaat, lalu kosong, mungkin sedang dipanggil untuk naik tingkat. Bukan lagi mengejar dunia, tapi merindukan Tuhan.
Sebuah renungan sebagai Refleksi dari hati yang merindukan makna untuk Menuju kepada yang lebih baik. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar