๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ๐˜, ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—›๐—ฎ๐˜๐—ถ: ๐—๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐˜†๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ

๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜‚๐—ต ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ถ๐˜, ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—›๐—ฎ๐˜๐—ถ: ๐—๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐˜†๐—ฎ๐—ต ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada rumah yang terlihat utuh dari luar, tapi di dalamnya kosong dari kehangatan. Ada pasangan yang setiap hari makan bersama, tapi hati mereka tidak pernah saling menyapa. Banyak rumah tangga yang secara administratif lengkapโ€”ada suami, istri, anakโ€”tapi secara emosional dan spiritual sedang retak perlahan. Mereka tinggal bersama, namun berjalan sendiri-sendiri. Apa yang hilang? Salah satunya adalah collegiality: nilai kebersamaan yang setara, saling menghargai, dan saling menopang.

Di tengah dinamika rumah tangga, peran ayah sering kali menjadi fondasi yang menentukan arah dan stabilitas keluarga. Dalam konsep collegiality, ayah bukanlah sosok yang memerintah dari singgasana patriarki, melainkan pemimpin yang melayani, pengayom yang mendengar, dan mitra yang menjaga keseimbangan. Ia menjadi penopang keluarga, bukan hanya secara ekonomi, tapi juga secara spiritual, emosional, dan moral.

Al-Qurโ€™an menunjukkan bagaimana peran ayah sebagai pemimpin penuh tanggung jawab yang mengarahkan keluarganya kepada kebaikan โ€œHai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…โ€ (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa ayah memiliki tanggung jawab utama dalam menjaga keluarganya, tidak hanya dari sisi lahir, tetapi juga dari sisi batin dan iman.

Peran ayah juga tampak dalam kisah Nabi Ibrahim `alayhis salaam yang sangat menyentuh. Ketika beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya, Ismail, ia tidak bertindak sepihak, tapi justru mengajak anaknya berdiskusi โ€œWahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!โ€ (QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah collegiality seorang ayah: menghormati perasaan anak, melibatkan dalam keputusan besar, dan membangun komunikasi dua arah. Sikap Nabi Ibrahim bukan dominasi, melainkan keteladanan dalam kepemimpinan yang mengakar pada rasa cinta dan keterbukaan.

Ketahanan keluarga bukan hanya terletak pada kekuatan fisik atau materi, tapi pada kehadiran emosional dan spiritual seorang ayah. Collegiality membantu para ayah untuk tidak hanya kuat secara peran, tapi juga hangat dalam pelukan batin keluarga.

Jika seorang ayah mampu hadir secara utuhโ€”mendengarkan istri, menjadi teman anak, dan tunduk kepada Allahโ€”maka rumah tangga akan menjadi tempat aman untuk bertumbuh, berlindung, dan kembali pulang.

Saudaraku…

Tiang hanya menyangga, Tapi pohon meneduhkan, menghidupi, dan merangkul.

Jadilah ayah yang bukan hanya kuat menopang, tapi juga lembut merangkul dan teduh menaungi.

Karena dari ketegasan ayah, anak belajar tanggung jawab. Dari kelembutan ayah, anak belajar kasih. Dan dari kehadiran ayah, keluarga belajar untuk bertahan bukan karena takut, tapi karena merasa aman. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar