Senyum Itu Ibadah, Tapi Jangan Jadi Modal Rayuan Murahan

Senyum Itu Ibadah, Tapi Jangan Jadi Modal Rayuan Murahan
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Pernah dengar ungkapan, “Senyummu adalah ibadah”? Ya, itu bukan karangan anak TikTok, tapi memang ada dasarnya. Rasulullah SAW bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. (HR. Tirmidzi)

Lalu, muncul satu kasus kontemporer: bagaimana kalau senyum itu dipakai buat ngerayu? Nah, di sinilah syariat perlu hadir sebagai juri.

Bayangkan seorang perempuan (atau laki-laki juga bisa), kerjanya tiap hari senyum manis ke semua lawan jenis—tapi niatnya bukan sedekah, bukan menyebar rahmat, apalagi menebar akhlak… tapi menebar jaring. Rayuan maut. Mata sayu, gigi putih, lesung pipi. Target: kena perangkap.

Nah loh! Itu masih bisa disebut ibadah?

Secara hukum, senyum itu mubah, bahkan sunnah, jika niatnya tulus dan tidak menimbulkan fitnah. Tapi kalau senyum jadi alat promosi pribadi, apalagi yang diselipkan dengan lirikan maut dan embel-embel “abang ganteng banget sih…” maka itu sudah masuk ke wilayah abu-abu. Abu-abu pekat!

Dalam Islam, amal dinilai dari niat. Senyum yang awalnya berpahala bisa jadi malah menambah dosa, kalau Niatnya untuk menarik perhatian lawan jenis dan Dibumbui dengan gesture yang merangsang atau Mengarah ke hubungan yang tidak halal.

Ini bukan lebay, tapi realita. Banyak kasus awalnya dari senyum, lanjut jadi chat, kemudian ngopi berdua, lalu… skip-skip… eh, sidang isbat pernikahan!

Ibarat pisau, senyum itu alat. Kalau dipakai buat potong sayur—bermanfaat. Tapi kalau dipakai buat ngancam orang—ya, masuk penjara. Begitu juga senyum. Ia bisa jadi sedekah, bisa juga jadi senjata syahwat.

Maka, jujur dalam senyum berarti tahu tempat dan tujuannya. Kalau kamu senyum ke ibumu yang lagi lelah—itu ibadah. Kalau senyum ke teman sejawat karena ingin menguatkan semangat—itu akhlak. Tapi kalau senyum karena ingin bikin gebetan deg-degan—ya, pikir-pikir lagi deh, itu jujur atau modus?

Jujur dalam Islam tidak hanya soal ucapan, tapi juga ekspresi, niat, dan arah hati. Maka kalau kita ingin senyum kita berpahala, letakkan ia di tempat yang bernilai dan benar. Jangan senyum jadi hobi, tapi ke pasangan sendiri kaku kayak batu nisan.

“Yang menebar senyum karena Allah, akan menuai cinta dari langit. Tapi yang menebar senyum karena nafsu, bisa tercebur ke jurang tipu daya setan.”

Yuk, senyum yang syar’i. Bukan syar’i karena ada labelnya, tapi karena niatnya lurus, manfaatnya nyata, dan menjauhkan dari fitnah. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar