By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada satu ungkapan yang sering kita dengar: “Saya orang baik. Saya tidak mau menzhalimi orang lain.” walapun dalam keadaan marah, Ungkapan ini terdengar indah, bahkan meyakinkan. Namun, sering kali di balik kalimat itu tersimpan jebakan halus bernama kesombongan batin.
Seorang yang memberi sesuatu kepada orang lain, lalu berkata: “Saya memang orang baik. Jarang orang seperti saya.” — seakan lupa bahwa memberi itu bukan semata kemuliaan dirinya, melainkan kewajiban yang diamanahkan Allah.
Apa yang dia sebut kebaikan, bisa jadi hanyalah hal yang memang semestinya ia lakukan.
Coba sekali kali kita Bayangkan sebuah cermin yang memang diciptakan untuk memantulkan wajah. Tapi kalau cermin itu berdebu, wajah yang dipantulkan tidak akan jelas. Bisa jadi seseorang merasa wajahnya bersih, padahal cerminlah yang kotor.
Demikian pula hati manusia. Seseorang bisa merasa dirinya baik, karena menilai dirinya lewat “cermin yang berdebu”—yakni hawa nafsu dan ego. Ia melihat kebaikannya sendiri dengan samar, tapi enggan membersihkan hatinya agar bisa benar-benar jernih.
Pertanyaan penting muncul: Apakah merasa diri baik itu tanda kebodohan, atau tanda keshalihan? Jawabannya bisa keduanya.
Jika dari kebodohan, maka itu lahir karena ia tidak menyadari bahwa dirinya masih banyak kekurangan. Ia mengira kebaikan kecil yang dilakukan sudah menjadikannya istimewa. Padahal, Allah jauh lebih tahu siapa hamba yang benar-benar ikhlas.
Jika dari keshalihan, maka keshalihan itu seharusnya melahirkan rasa takut, rendah hati, dan khawatir akan kezaliman yang tidak terlihat. Orang shalih justru gemetar hatinya, takut kalau ada hak orang lain yang belum tertunaikan, takut kalau ada kebaikan yang ternodai riya’.
Keshalihan yang sejati bukan melahirkan kalimat “Saya orang baik,” tetapi melahirkan doa lirih: seperti “Ya Allah, jangan biarkan aku menzhalimi siapapun tanpa kusadari.”
Ibarat Seorang tukang kebun menanam pohon mangga. Pohon itu berbuah lebat. Lalu ia berkata: “Lihat, pohon ini berbuah karena aku tukang kebun yang baik.” Benarkah begitu?
Buah itu tumbuh bukan semata karena dirinya, melainkan karena tanah, air, sinar matahari—semua anugerah Allah yang ia tak pernah bisa ciptakan sendiri.
Begitu pula kebaikan, Kalau kita bisa memberi, menolong, dan tidak menzhalimi, itu semua karena rahmat Allah. Bukan semata karena kita istimewa. Maka kalimat yang pantas bukanlah “Saya orang baik,” tetapi “Alhamdulillah, Allah beri saya kesempatan berbuat baik.”
Kebaikan sejati bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tapi bagaimana hati kita menempatkannya.
Merasa diri baik bisa jadi pintu awal kesombongan, sementara merasa takut meski sudah berbuat baik bisa jadi pintu menuju keikhlasan.
Mari kita belajar menjadi seperti tanah yang subur. Tanah tidak pernah berkata: “Lihat, aku baik, aku menumbuhkan pohon.” Tanah diam, tapi dari diamnya tumbuh ribuan kebaikan.
Sebab kebaikan yang hakiki bukan yang diumumkan, tapi yang mengalir diam-diam, antara hamba dengan Tuhannya. (Red)