KBBAceh.News | Tapaktuan – Kadang kita mendengar orang berkata, “Syukurlah, aku masih lebih baik daripada dia…” Seakan-akan rasa syukur baru terasa ketika kita melihat orang lain dalam keadaan susah.
Sekilas memang ada benarnya: melihat yang lebih parah membuat kita sadar, ternyata hidup kita tidak seburuk itu. Tapi kalau dipikir-pikir lebih dalam, bukankah cara bersyukur seperti ini agak aneh? Kalau syukur kita bergantung pada kesengsaraan orang lain, apa bedanya dengan rasa sombong yang halus?
Bayangkan, ada orang yang hanya bisa merasa “lega” selama tetangganya tetap sengsara. Kalau tetangganya bangkit dan hidupnya membaik, ia malah gelisah—takut “rasa syukurnya” hilang. Ini jelas bukan syukur, ini cermin ego yang menyamar.
Dalam Islam, syukur itu bukan karena kita lebih baik dari orang lain. Syukur adalah kesadaran bahwa nikmat yang kita punya—besar atau kecil—datang dari Allah. Maka wujud syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, tapi juga bagaimana kita memakai nikmat itu untuk berbuat baik, berbagi, dan tidak meremehkan yang lain.
Coba perhatikan tanda-tandanya: Syukur yang benar membuat hati rendah, bukan tinggi, Syukur yang benar melahirkan kepedulian, bukan keacuhan dan Syukur yang benar mendorong kita berbagi, bukan menekan orang lain agar tetap di bawah.
Saya jadi teringat satu kisah sederhana. Seorang bapak pulang kerja, melihat tetangganya baru saja kehilangan pekerjaan. Hatinya refleks berkata, “Alhamdulillah, keluargaku masih bisa makan.” Tapi ia tidak berhenti di situ. Ia mengajak tetangganya makan malam, membagi sedikit lauk seadanya, bahkan bertanya apakah ada peluang kerja yang bisa ia bantu carikan. Esoknya, saat ditanya kenapa ia repot begitu, ia menjawab pendek: “Biar syukur saya nyata, bukan cuma kata-kata.”
Bukankah begitu indahnya syukur kalau diwujudkan?
Kalau kita jujur, syukur karena membandingkan dengan penderitaan orang lain itu seperti kebun yang tampak hijau hanya karena tetangga kita punya halaman gersang. Sementara syukur sejati itu seperti pohon yang benar-benar berbuah: bisa dinikmati, bisa menaungi, bahkan bisa menghidupi siapa saja yang singgah.
Jadi, syukur bukan tentang siapa yang lebih sengsara, tapi tentang hati yang tahu dari mana nikmat datang.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)