Di sebuah ruang kerja yang penuh cahaya lampu, ada satu kursi yang hampir setiap pagi kosong. Kursi itu seolah menyimpan rahasia yang sama setiap hari—alasan yang berganti wajah. Kadang berbentuk “anak sakit”, kadang “kepala pusing”, kadang “urusan mendadak yang tak bisa ditunda”. Seperti kabut yang selalu menemukan cara baru untuk menutupi langit.
Namun, di balik alasan yang silih berganti itu, ada banyak kemungkinan yang bersembunyi. Barangkali, di balik wajah yang tampak tenang, ada hati yang lelah menanggung beban hidup. Barangkali pula, di balik senyum yang ringan, ada jiwa yang kehilangan arah dan makna dalam pekerjaannya. Atau, jangan-jangan, itu hanyalah tabiat lama—kebiasaan bersembunyi dari tanggung jawab.
Disiplin, sejatinya, adalah cermin yang jujur. Ia memantulkan siapa diri kita ketika tak ada yang melihat. Ia bukan sekadar datang tepat waktu atau menyelesaikan tugas, tapi tentang seberapa tulus kita menjaga amanah yang dititipkan. Karena setiap pekerjaan, pada dasarnya, adalah janji yang diucapkan kepada Tuhan—bahkan sebelum ditandatangani di atas kertas.
Maka, menghadapi mereka yang suka beralasan, jangan buru-buru menghakimi. Kadang mereka butuh dipeluk, bukan ditegur. Tapi jika pelukan tak juga menyadarkan, mungkin sudah waktunya kita menegakkan batas. Sebab kasih tanpa ketegasan akan melahirkan ketidaktertiban, dan ketegasan tanpa kasih akan menumbuhkan kebencian.
Dunia kerja adalah taman kejujuran. Di sana, setiap benih tanggung jawab akan tumbuh menjadi kepercayaan, dan setiap alasan yang palsu akan layu di bawah cahaya waktu. (By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)