By. Dr. Khairuddin MA
Tapaktuan, KBBAceh.news – Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada pilihan: berkata jujur atau memilih jalan pintas dengan menyembunyikan kebenaran. Padahal, kejujuran adalah fondasi dari semua hal baik—kepercayaan, ketenangan, dan hubungan yang sehat. Seperti yang dikatakan Aristoteles, kejujuran bukan sekadar mengatakan apa adanya, melainkan tentang menyampaikan kebenaran dengan bijak—pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, kepada orang yang tepat.
Hidup ini seperti menanam. Kejujuran adalah benih yang mungkin lambat tumbuh, tapi saat ia mekar, akan menjadi pohon kepercayaan yang kokoh dan tak tergoyahkan.
Bayangkan seorang pegawai kecil yang diberi amanah untuk mengelola dana kegiatan. Ia sadar bahwa sedikit manipulasi bisa memberinya keuntungan cepat tanpa ada yang tahu. Tapi ia memilih jujur. Ia melaporkan sesuai realita, meski sederhana. Bertahun-tahun kemudian, integritasnya membuatnya dipercaya memimpin sebuah tim besar. Kejujurannya menjadi jejak kebaikan yang membawa kepercayaan dan keberkahan.
Kejujuran memang tidak selalu membuat kita disukai atau kaya secara instan. Tapi ia menyelamatkan kita dari kecemasan, membuka pintu-pintu kepercayaan, dan mengangkat derajat kita di mata manusia—lebih lagi di hadapan Allah.
Jujurlah walau tidak dilihat. Jujurlah walau tidak dihargai. Karena nilai kejujuran bukan ditentukan oleh pujian manusia, tapi oleh integritas yang terpatri dalam hati dan dinilai langsung oleh Allah.
Jujurlah dalam bekerja, karena itu membentuk karakter. Jujurlah dalam hubungan, karena itu menumbuhkan cinta sejati. Jujurlah dalam doa, karena Allah lebih dekat kepada hati yang bersih.
Satu langkah jujur hari ini, bisa menjadi seribu langkah keberkahan di masa depan. Maka, jadikan kejujuran bukan pilihan, tapi kebiasaan. (Red)