KERJA BUKAN HANYA SEKEDAR SIBUK

KERJA BUKAN HANYA SEKEDAR SIBUK
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Banda Aceh – Newport pengarang buku “Deep Work” menegaskan bahwa “kerja mendalam” bukan hanya soal produktivitas, tapi juga soal makna hidup. Karena orang yang fokus, tenang, dan tulus dalam bekerja akan selalu menemukan kepuasan batin di tengah hiruk-pikuk dunia.
Ada dua jenis pekerja di dunia ini. Yang pertama, sibuk sepanjang hari tetapi tidak pernah benar-benar maju. Yang kedua, diam, fokus, tapi hasil karyanya mengguncang dunia.
Yang pertama sibuk memeriksa notifikasi, berpindah dari satu tugas ke tugas lain, seolah dunia akan berhenti jika ia offline.
Yang kedua menutup pintu, menyalakan pikirannya, dan menulis, meneliti, atau membangun sesuatu dalam kesunyian — hingga lahirlah hasil yang bernilai.
Kerja mendalam bukan soal berapa lama kita duduk, tapi seberapa dalam kita menyelam.
Bayangkan seorang penyelam.
Ia tidak berlari di permukaan air. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu turun perlahan ke kedalaman. Di sana, di bawah gelombang, dunia terasa hening. Tidak ada gangguan, hanya fokus dan keindahan tersembunyi.
Begitu pula dalam pekerjaan. Nilai tertinggi tidak ditemukan di permukaan yang ramai, tetapi di kedalaman yang sunyi.
Banyak orang hari ini tampak sibuk tapi sebenarnya kosong. Sibuk menanggapi pesan, sibuk membangun citra, sibuk terlihat produktif. Tapi malam tiba, tak ada karya yang bisa dibanggakan selain lelah yang tak bermakna.
Deep work adalah seni kesungguhan.
Ia menuntut disiplin untuk mematikan gangguan, menolak distraksi, dan menciptakan ruang bagi pikiran untuk bekerja penuh daya.
Ia bukan tentang menjadi cepat, tapi tentang menjadi utuh.
Kerja yang dalam membuat kita menjadi manusia yang bekerja dengan jiwa, bukan hanya dengan tangan.
Karena dari kedalaman itulah lahir ide-ide besar, buku yang menyentuh, kebijakan yang bijak, dan pelayanan yang bermakna.
Maka jika hari ini dunia terasa bising, jangan ikut berteriak. Tarik dirimu dari keramaian, buat ruang sunyi untuk berpikir dan berkarya.
Sebab, di era yang ramai, diam yang fokus adalah kekuatan paling langka. (By Dr. Khairuddin, S.Ag, MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar