Ketika Ekspertisi Diabaikan: Sebuah Renungan tentang Tugas, Kuasa, dan Kepercayaan

Ketika Ekspertisi Diabaikan: Sebuah Renungan tentang Tugas, Kuasa, dan Kepercayaan
Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Tulisan ini sengaja saya tulis untuk menjawab beberapa pertanyaan yang datang dari rekan-rekan di berbagai daerah, yang akhir-akhir ini mengeluhkan soal sikap atasan yang dirasa tidak profesional, bahkan sering kali melakukan intervensi terhadap pekerjaan bawahan tanpa memahami substansi tugas yang dijalankan.
Bukan satu dua orang yang bercerita. Ada yang menyampaikan dalam forum resmi, ada pula yang curhat lirih di pesan pribadi. Rata-rata mengeluhkan hal yang sama: ekspertisi diabaikan, profesionalisme ditundukkan oleh kekuasaan.
Untuk itu, saya ingin menghadirkan sebuah kisah. Bukan untuk menyerang siapa pun. Tapi untuk mengajak kita semua berpikir ulang, terutama bagi mereka yang berada di posisi pengambil keputusan. Kisah ini tentang seorang staf muda bernama Rahmad, yang dalam diamnya menyimpan ketekunan, integritas, dan keahlian yang tak selalu dianggap penting di ruang kekuasaan.
Rahmad dan Keahlian yang Terpinggirkan
Di suatu kantor yang hiruk-pikuk oleh rutinitas, Rahmad menjalankan tugas hariannya dengan senyap tapi terukur. Ia adalah analis program yang paham betul cara membaca data, menafsirkan angka, dan menyusun laporan berbasis regulasi. Ia tahu kapan harus bicara, dan kapan harus cukup menyampaikan lewat bukti kerja.
Ia punya satu hal yang tidak semua staf miliki: ekspertisi.
Namun, pada suatu siang yang seharusnya biasa saja, ia harus berhadapan dengan satu kalimat yang menghentikan langkahnya.
“Ubah saja ini. Saya tidak suka bentuknya,” ujar atasannya sambil menunjuk laporan yang baru semalam ia rampungkan.
Rahmad menunduk sejenak, lalu menjawab pelan, “Tapi, Pak… ini sudah mengacu pada regulasi terbaru dan SOP kementerian. Bahkan template-nya pun saya ambil dari sistem pusat.”
Atasannya tidak menanggapi argumen itu. Ia hanya melontarkan kalimat penutup yang menggugurkan nalar “Saya ini atasanmu. Ikuti saja.”
Tak ada ruang untuk dialog. Tak ada ruang untuk menjelaskan bahwa pekerjaan teknis bukan sekadar soal rasa suka. Bahwa ada ilmu yang bekerja di dalamnya, ada pelatihan yang telah ia ikuti, dan ada proses profesional yang ia pegang teguh.
Di saat seperti itulah, Rahmad merasa, ekspertisi yang ia miliki — yang seharusnya menjadi nilai — justru menjadi beban di hadapan kuasa yang anti kritik dan tidak mau mendengar.
Apa yang dialami Rahmad bukan hanya cerita satu orang. Ia mencerminkan kenyataan yang lebih luas: struktur kerja yang masih lebih menghormati jabatan daripada keahlian. Dalam sistem seperti itu, keakuratan bisa dikalahkan oleh selera, dan integritas bisa tersingkir oleh ambisi.
Padahal, tugas pokok dalam sistem birokrasi — baik di kementerian, dinas, maupun lembaga lainnya — bukan hanya soal pelaksanaan perintah, melainkan juga tentang bagaimana pelaksana tugas diberikan kepercayaan menjalankan pekerjaan sesuai bidang dan keahliannya.
Atasan seharusnya hadir sebagai pengarah dan pembina, bukan penekan atau penghambat.
Tiba saatnya kita berhenti mempertahankan pola pikir lama bahwa atasan selalu lebih tahu. Jabatan bukan jaminan kecakapan. Justru di sinilah letak ujian kepemimpinan: apakah seseorang cukup rendah hati untuk mengakui bahwa bawahannya bisa lebih ahli dalam bidang tertentu?
Organisasi yang sehat bukan yang penuh instruksi sepihak, melainkan yang memberi ruang diskusi. Yang menghargai keahlian sebagai aset, bukan ancaman. Yang menjadikan ekspertisi sebagai dasar mengambil keputusan, bukan sebagai hal remeh yang bisa diabaikan.
Penutup: Ekspertisi Bukan Ancaman
Rahmad tetap bertahan, bukan karena tak bisa pergi. Tapi karena ia percaya, perubahan besar kadang dimulai dari orang kecil yang tetap konsisten menjalankan tugasnya dengan benar.
Bagi para pemimpin yang sedang membaca ini, mari bertanya pada diri sendiri:
Sudahkah kita benar-benar memahami tugas pokok bawahan kita? Atau Sudahkah kita menghargai keahlian mereka sebagai bagian dari penguatan organisasi? Ataukah kita masih sibuk mempertahankan otoritas, sambil mengabaikan kompetensi?
Karena jika kita masih menutup ruang bagi ekspertisi, jangan heran bila profesionalisme hanya menjadi jargon, dan kepercayaan hanya menjadi formalitas.
Catatan : Rahmad adalah bukan nama sebenarnya***
(Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar