KETIKA KESHALEHAN MENJADI TOPENG

KETIKA KESHALEHAN MENJADI TOPENG
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada sebagian orang dalam hidup ini yang lisannya tidak pernah lepas dari menyebut nama Allah. Setiap kali berbicara, selalu terselip kata “Masya Allah”, “Subhanallah”, atau “Alhamdulillah”. Pakaiannya pun sopan, menutup aurat dengan baik, bahkan selalu menampilkan kesan berakhlak dan religius. Sekilas, orang seperti ini tampak menenangkan, seolah menjadi contoh kesalehan di tengah masyarakat yang makin longgar dengan nilai-nilai agama.
Namun waktu sering kali menjadi penguji yang tidak bisa disuap. Perlahan, mulai tampak bahwa antara kata dan perilaku tidak selalu sejalan. Orang yang setiap hari menyebut nama Allah itu ternyata tidak selalu jujur dalam tindakannya. Ucapannya lembut di depan, tapi sering menyakiti di belakang. Ia bisa tampak santun dalam pakaian, tapi keras dan sombong dalam hati. Dan ketika ketidaksesuaian itu semakin sering terlihat, lambat laun masyarakat pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak benar.
Bukan niat orang untuk berprasangka buruk. Tapi perilaku yang bertolak belakang dengan penampilan suci itu seakan memaksa orang lain untuk menilai dengan pandangan negatif. Ini bukan karena orang lain tidak berbaik sangka, melainkan karena ia sendiri telah membuka ruang prasangka dengan cara hidup yang tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan.
Fenomena ini sering terjadi di sekitar kita. Di dunia yang serba tampilan seperti sekarang, kesalehan bisa dijadikan gaya hidup, bukan lagi perjalanan hati. Orang bisa terlihat sangat religius tanpa benar-benar mendalami maknanya. Padahal agama tidak menilai seseorang dari seberapa sering menyebut nama Allah, melainkan dari seberapa jujur ia menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam nama itu.
Mengucapkan “Subhanallah” berarti mengakui kesempurnaan Allah, dan seharusnya membuat kita rendah hati, bukan merasa paling suci. Mengucap “Masya Allah” berarti mengakui kehendak Allah, seharusnya menumbuhkan keikhlasan, bukan rasa iri. Tetapi jika kata-kata itu hanya menjadi hiasan bibir tanpa makna dalam hati, maka semuanya hanya akan menjadi hiasan kosong—indah dilihat, tapi rapuh di dalam.
Ketika perilaku seseorang tak lagi sejalan dengan ucapannya, maka cahaya kesalehannya akan memudar. Orang lain tidak lagi melihat keteduhan, melainkan kebingungan. Karena pada dasarnya, manusia lebih mudah menilai dari tindakan daripada kata. Dan di saat seperti itu, bahaya terbesar bukan pada pandangan orang lain, tapi pada rusaknya nilai keikhlasan di dalam diri.
Kesalehan sejati tidak perlu diumumkan. Ia seperti wangi bunga yang tak pernah memaksa siapa pun untuk mencium, tapi tetap mengharumkan udara di sekitarnya. Orang yang benar-benar berakhlak tidak sibuk membicarakan akhlak; ia menjalaninya dalam diam. Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak terlalu sering menyebut nama-Nya hanya untuk didengar orang, tapi lebih banyak menyebut dalam hati, di waktu sepi.
Maka, berhati-hatilah ketika kebaikan yang kita tampilkan lebih sering ditujukan agar orang lain melihat. Sebab jika niat sudah berpindah dari Allah kepada manusia, maka amal sebesar apa pun akan kehilangan nilai. Dan ketika kebenaran diri mulai terkikis, Allah akan menunjukkan siapa kita sebenarnya—melalui sikap, perkataan, bahkan pandangan orang di sekitar kita.
Karena pada akhirnya, bukan jumlah zikir di bibir yang membuat seseorang mulia, tetapi kejujuran antara hati, ucapan, dan perbuatannya. Jika ketiganya sejalan, maka Allah sendiri yang akan menjaga kehormatan kita. Tapi jika tidak, maka sebaik apa pun penampilan luar, cepat atau lambat, kebenaran akan menyingkap topeng itu. (By Dr. Khairuddin, S.A,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar