KETIKA SYARIAT TAK LAGI MENYENTUH HATI

KETIKA SYARIAT TAK LAGI MENYENTUH HATI
Dr. Khairuddin, S.Ag, MA  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada pemandangan yang menimbulkan tanya dan getir di hati setiap orang yang masih memiliki nurani iman. Sebuah fenomena yang luar biasa — luar biasa bukan karena keindahannya, tetapi karena kejanggalannya — terjadi di negeri yang disebut negeri syariat.
Lihatlah di musim wisuda, ketika kampus-kampus berubah menjadi lautan bunga dan senyum bahagia. Sebagian besar yang diwisuda adalah kaum wanita — sebuah kebanggaan sekaligus pertanyaan. Kebanggaan, karena perempuan kini mampu menempuh pendidikan tinggi, menjadi cerdas dan berdaya. Tapi pertanyaannya: di mana ruh keimanan di balik kecerdasan itu?
Sebab sebelum Subuh, mereka sudah bersiap dengan pakaian indah, wajah berhias rapi, dan langkah yang terburu menuju salon atau tempat rias. Saat adzan Dhuhur berkumandang, mereka masih di pelataran kampus, berfoto ria dengan toga dan buket bunga. Ketika Asar tiba, mereka kelelahan, menunduk bukan karena khusyuk berdoa, tapi karena penat setelah berjam-jam berdiri di depan kamera. Dan menjelang Maghrib, beberapa terlihat di bantaran sungai, mengabadikan cahaya senja, sementara cahaya iman perlahan meredup di dada.
Fenomena ini seolah menjadi potret kecil dari sesuatu yang lebih besar: pudarnya nilai ruhani di tengah gemerlap simbol keagamaan.
Padahal negeri ini disebut negeri syariat. Azan lima waktu berkumandang tanpa henti, bulan Ramadan disambut meriah, majelis taklim tumbuh subur, peringatan Maulid Nabi dan Isra Mikraj berlangsung di berbagai penjuru, dan masjid selalu ramai oleh kegiatan keagamaan. Semua tampak religius di permukaan.
Namun di balik itu semua, ada ruang kosong yang perlahan membesar — ruang kosong di hati umat.
Syariat ada di bibir, tapi belum sampai ke dada. Ia diteriakkan dalam peraturan, tapi belum dihidupkan dalam kesadaran. Negeri ini bersyariat dalam struktur, tapi kehilangan ruh syariat dalam kultur.
Lihat pula pesta pernikahan yang kini berubah wajah.
Dulu, pesta perkawinan adalah momen penuh doa, sederhana namun sakral. Kini, antara linto baro dan dara baro berdiri di panggung megah dengan tata cahaya berwarna-warni, musik menggelegar, dan tamu berdesakan sambil berfoto. Padahal akad nikah yang barakah justru terletak pada kesederhanaan dan kekhusyukan.
Syariat seharusnya menjadi panduan dalam setiap langkah hidup, bukan sekadar latar belakang upacara. Tapi entah mengapa, banyak di antara kita yang hanya menampilkan syariat di acara formal, sementara kehidupan sehari-hari berjalan tanpa arah ruhani.
Apakah ini yang disebut kemajuan?
Ataukah ini bentuk lain dari keterasingan spiritual di tengah masyarakat yang mengaku religius?
Fenomena-fenomena ini seolah berkata: agama telah menjadi pakaian, bukan nafas.
Kita mengenakannya ketika ada acara, lalu menanggalkannya ketika selesai. Kita berislam dalam bentuk, tapi belum beriman dalam substansi.
Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai zahir tanpa batin, ritual tanpa ruh, syariat tanpa hakikat.
Padahal, kekuatan sebuah negeri bersyariat tidak diukur dari banyaknya hukum Islam yang tertulis, tetapi dari seberapa dalam nilai Islam hidup di hati warganya. Negeri ini akan benar-benar menjadi “negeri syariat” bukan karena adanya qanun, tapi karena masyarakatnya menjadikan Allah sebagai pusat kesadaran, bukan sekadar simbol di spanduk.
Maka muncul pertanyaan yang mengguncang hati:
Mengapa generasi yang tumbuh dalam nuansa syariat justru semakin jauh dari ruh ibadah?
Mengapa simbol-simbol agama semakin ramai, tapi masjid kian sepi?
Mengapa masyarakat berbondong-bondong menghadiri perayaan keagamaan, tapi enggan bangun di sepertiga malam?
Dan mengapa ilmu yang katanya cahaya, justru tak mampu menuntun pada ketaatan?
Apakah ini tanda bahwa kita sedang beragama secara budaya, bukan secara kesadaran?
Apakah negeri ini telah puas dengan “kulit syariat”, sementara “isi iman” perlahan kering dan rapuh?
Mungkin kita sedang berada di persimpangan yang berbahaya: antara kebanggaan atas label syariat dan kenyataan bahwa ruhnya telah ditinggalkan.
Maka sudah sepatutnya kita berhenti sejenak — bukan untuk menilai orang lain, tapi untuk bercermin.
Sudahkah kita menegakkan shalat dengan hati, bukan sekadar menggugurkan kewajiban?
Sudahkah ilmu yang kita pelajari mengantarkan kita pada penghambaan, bukan kesombongan?
Sudahkah pesta kita menjadi ladang doa, bukan panggung pamer?
Syariat bukan sekadar hukum, tapi cara hidup. Ia bukan sekadar aturan, tapi cahaya yang menuntun batin.
Dan ketika syariat kehilangan ruh, ia akan berubah menjadi formalitas yang kering — tampak hidup, tapi sebenarnya mati.
Jika negeri ini ingin benar-benar menjadi negeri syariat, maka yang harus dibangun bukan hanya sistem dan peraturan, tapi kesadaran spiritual yang hidup dalam setiap jiwa.
Karena negeri syariat sejati bukan negeri yang banyak qanunnya, melainkan negeri yang warganya malu kepada Allah bahkan ketika tidak dilihat manusia.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar