Melangkah di Tengah Bencana: “Catatan Perjalanan Dinas ke Bener Meriah”

Melangkah di Tengah Bencana: “Catatan Perjalanan Dinas ke Bener Meriah”
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Banda Aceh – Hujan turun sejak subuh, tipis-tipis menggantung seperti tirai kelabu yang belum benar-benar turun ke bumi. Ketika mobil bergerak menuju Pidie Jaya, lalu ke Bireuen, dan kemudian berbelok menanjak menuju Bener Meriah, tak seorang pun di antara kami yang menduga bahwa langit sedang menyiapkan cerita yang tak akan kami lupakan sepanjang hidup.
Perjalanan dinas ini sesungguhnya sederhana: verifikasi dan pemakaian buku nikah di KUA, memastikan masyarakat memperoleh kepastian status pernikahan mereka—hak keperdataan yang mendasar, hak atas martabat keluarga, dan hak untuk hidup tanpa keraguan administratif. Sebuah tugas yang tampak teknis, namun berdampak sosial begitu luas.
Namun sejak menapakkan kaki di Kabupaten Bener Meriah, kami merasa sesuatu sedang berubah.
Hujan yang sejak hari sebelumnya turun ringan, tiba-tiba berubah deras. Bukan sekadar deras, tetapi seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Listrik padam, sinyal hilang, dan suara air mulai terdengar dari berbagai arah.
Awal yang Tak Kami Duga
Pagi itu, kami berdiri di teras Hotel Idola Syariah. Hujan masih belum berhenti. Di kejauhan, suara gemuruh seperti runtuhan tanah sesekali terdengar. Kami saling berpandangan, menyadari bahwa sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.
Dua hari berlalu tanpa kepastian, Tidak ada jaringan telepon, Tidak ada listrik. Tidak ada informasi resmi.
Yang ada hanya kabar-kabar dari mulut ke mulut—kabur, menakutkan, dan saling bertentangan.
“Semua jembatan menuju Aceh Tengah dan Bireuen putus.” “Banyak desa terisolasi.” “Banjir mulai meluas.”
Keresahan itu bukan hanya milik kami. Di luar sana, masyarakat mulai panik. Stok makanan menipis, bahan bakar hampir habis, dan akses keluar benar-benar terputus. Setiap jam yang berlalu terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Keputusan Terberat yang Justru Menyelamatkan
Di situlah keputusan ekstrem itu muncul. Sebuah keputusan yang awalnya diragukan oleh semua, kecuali satu orang: saya sendiri.
“Jika kita tidak bergerak, kita tidak akan pernah sampai ke Bireuen. Diam hanya akan membuat kita terjebak. Setiap menit hujan terus turun, kondisi makin memburuk.”
Kata-kata itu bukan heroisme. Itu intuisi.
Dan mungkin, itu juga bisikan dari Allah agar kami memilih jalan ikhtiar.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya tim sepakat: kita berjalan kaki menuju Bireuen.
Menunggu hujan reda adalah syarat satu-satunya.
Ketika langit mulai menipis, kami memulai langkah panjang itu—tanpa tahu apa yang menunggu.
Tiga Belas Rintangan: Ujian Fisik dan Ujian Jiwa
Perjalanan itu bukan sekadar berjalan kaki. Kami menaiki bukit dengan kemiringan 70–80 derajat, turun ke lembah berlumpur, memanjat lagi, lalu melintasi sungai menggunakan sebatang kayu dan seutas tali buatan warga.
Ada titik di mana sepatu masuk lumpur hingga betis. Ada momen ketika salah satu dari kami hampir terpeleset. Ada saat di mana napas kami tidak lagi teratur, namun kaki harus tetap melangkah.
Rintangannya berjumlah 13 titik krusial dan setiap titik seperti ujian berbeda seperti longsor menutup jalan, jembatan ambruk, sungai meluap, tanah licin seperti sabun, kabut tebal, jalan setapak yang nyaris hilang.
Tetapi Allah mengirimkan pertolongan melalui tangan-tangan manusia.
Warga yang tidak kami kenal sama sekali datang membantu: ada yang memberikan arah jalan, ada yang mengantar kami menyeberang, ada yang memberikan pisang, kue, dan air minum.
Dalam kesulitan, kepedulian menjadi bahasa universal.
Kami bertemu banyak orang yang berjalan dengan niat sama: ingin keluar dari wilayah bencana. Mereka tidak saling kenal, namun semua saling membantu. Bahkan makanan terakhir dibagi rata—sebuah pelajaran tentang kemanusiaan yang sering terlupakan dalam kehidupan modern.
Malaikat dalam Wujud Manusia
Setelah rintangan ke-12, pertolongan lain datang. Kasubbag Kemenag Bener Meriah menjemput kami. Beliau kebetulan memiliki pesantren terpadu yang saat itu sedang bersiap untuk acara besar. Namun acara batal karena banjir.
Kami disambut hangat oleh Ketua Yayasan—mantan Bupati di wilayah DKI Jakarta—bersama anaknya. Kami diberi makanan, kamar untuk istirahat, dan bahkan motor untuk melanjutkan perjalanan menuju Bireuen.
Dalam kelelahan yang menumpuk, dihargai sebagai manusia adalah kemewahan paling mahal. Namun perjalanan belum selesai.
Salah satu jembatan besar di Krueng Peusangan putus di bagian kepala jembatannya, sehingga kami harus berjalan kaki 10 km lagi menuju jembatan lain, memanjat tangga sepanjang 30 meter, lalu melanjutkan perjalanan 20 km melalui kebun dan kampung masyarakat.
Di sebuah posko desa, kami disambut makanan hangat. Padahal tuan rumah itu ada yang kehilangan rumah, bahkan ada yang kehilangan anak.
Mereka menyajikan makanan dengan senyum lirih, mata sembab karena trauma.
Kami makan dengan haru, sadar bahwa yang sedikit terasa sangat besar ketika diberikan dari hati yang sedang terluka.
Akhirnya, sebuah mobil pengangkut pasir menjemput kami. Di saat tubuh hampir menyerah, pertolongan Allah hadir lagi tepat pada waktunya.
Perjalanan menuju Banda Aceh memperlihatkan paggilan bumi: jalan terbelah, papan rumah tersangkut di pepohonan, batu-batu besar menghantam jalan, dan lumpur menutup sebagian desa.
Bener Meriah sedang menangis. Dan kami menjadi saksi langsung air mata itu.
Hikmah Besar di Balik Bencana
Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa:
1. Manusia adalah makhluk yang kuat ketika ia memilih untuk bergerak.
Diam membuat kita terjebak. Langkah kecil menyelamatkan.
2. Musibah bukan hanya menghancurkan, tetapi juga mempertemukan hati-hati yang selama ini berjauhan.
Kami melihat manusia membantu tanpa syarat.
3. Harapan adalah bahan bakar yang tidak bisa dibeli.
Ketika makanan habis, harapan yang menggerakkan kaki kami.
4. Pertolongan Allah selalu dekat, tetapi datang melalui cara yang tidak selalu kita duga:
warga desa, Kasubbag Kemenag, pesantren, posko kecil, bahkan mobil pasir.
5. Tugas dinas kami tentang verifikasi buku nikah terasa kecil, namun ternyata justru perjalanan ini memperlihatkan betapa pentingnya kehadiran negara untuk masyarakat.
Di tengah bencana, masyarakat butuh kepastian. Dan kami adalah salah satu jalur kepastian itu.
Setiap Langkah Adalah Doa
Ketika akhirnya memasuki Banda Aceh, kami terdiam, Bukan karena lelah. Tetapi karena perjalanan ini menjadi pengingat bahwa hidup adalah rangkaian ujian.
Kami pulang dengan tubuh letih, tetapi hati yang lebih luas. Kami belajar bahwa Tugas negara dapat berubah menjadi misi kemanusiaan, Bencana dapat melahirkan solidaritas yang indah, Setiap perjalanan menyimpan makna yang tidak selalu bisa ditakar dengan laporan tertulis.
Dan yang paling penting: Allah selalu menitipkan pelajaran di setiap langkah, bahkan pada langkah yang penuh lumpur, hujan, dan kelelahan. (By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar