Oleh: Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Di banyak ruang kerja birokrasi kita, ada satu bentuk dinamika yang jarang tertulis di laporan kinerja, tetapi sangat terasa dalam keseharian: seorang pemimpin yang tidak senang kepada bawahannya, namun tidak tahu mengapa.
Sikap itu tidak diekspresikan dalam bentuk teguran keras atau surat peringatan. Tidak pula lewat evaluasi objektif. Melainkan lewat hal-hal kecil yang terus terakumulasi: wajah yang masam, sikap yang dingin, bahasa tubuh yang menghindar, dan nada suara yang nyaris tak bersahabat.
Ketika ditanya oleh atasannya, “Ada masalah dengan staf itu?” Jawaban si pemimpin bisa jadi, “Tidak tahu ya, saya memang tidak terlalu suka saja.”
Dan selesai. Tak ada kesalahan konkret. Tapi sikap sudah berubah. Peluang ditutup. Kepercayaan ditarik. Hubungan kerja menjadi canggung. Dan yang paling parah: si bawahan mulai mempertanyakan harga dirinya.
Fenomena yang Tidak Sepele
Dalam bahasa organisasi, ini disebut ketidaksukaan pasif-agresif. Tapi dalam dunia kerja kita, ia sering dianggap wajar. Padahal dampaknya luar biasa. Seorang pegawai yang produktif bisa kehilangan semangat. Hubungan tim bisa renggang. Bahkan layanan publik bisa terganggu karena suasana kantor yang penuh ketegangan diam-diam.
Seorang pemimpin yang tidak mampu mengelola rasa tidak sukanya kepada orang lain adalah ibarat nahkoda yang menilai anak buahnya bukan dari kemampuan, tapi dari getaran emosi pribadi. Bahaya terbesar dari ini adalah munculnya diskriminasi halus—silent bullying, tanpa kata-kata tapi terasa sampai ke dalam hati.
Bukan Soal Suka atau Tidak Suka
Jabatan bukanlah ruang untuk membalas perasaan, melainkan medan untuk menjalankan amanah. Tidak suka kepada seseorang bukanlah dosa, tapi membiarkan rasa tidak suka itu mengatur cara kita memperlakukan orang lain—itulah bentuk ketidakadilan struktural yang berakar dari jiwa.
Mari kita ambil cermin dari Rasulullah SAW Beliau adalah pemimpin spiritual dan administratif, namun tidak sekalipun bersikap sinis bahkan kepada mereka yang berbeda atau memusuhinya secara terang-terangan. Beliau bersikap profesional, lembut, dan tetap memberi hak orang lain meski hatinya tahu siapa yang jujur dan siapa yang tidak.
Dalam prinsip leadership ethics, seorang pemimpin harus mampu memisahkan antara “suka pribadi” dengan “kinerja profesional”. Ketika seorang pemimpin memutuskan tidak memberikan ruang hanya karena tidak suka dengan gaya bicara, latar belakang, atau cara bersikap seseorang, maka sesungguhnya yang sedang memimpin adalah egonya, bukan integritasnya.
Refleksi Kecil, Dampak Besar
Seorang bawahan yang setiap hari masuk kerja dengan ragu karena tidak tahu mengapa atasannya bersikap dingin, adalah cerminan bahwa organisasi sedang pincang secara psikologis.
Jika pemimpin hanya tersenyum pada yang ia sukai, dan masam pada yang ia tidak sukai, maka seharusnya kita bertanya:
Apakah jabatan sedang digunakan untuk mengatur kerja? Ataukah untuk mengatur suasana hati?
Menjadi Pemimpin yang Mencerahkan
Pemimpin yang baik bukan hanya pandai memberi perintah, tapi juga mahir memberi ruang. Bukan hanya menentukan target, tapi juga menumbuhkan semangat. Dan ini tidak bisa terjadi jika perasaan pribadi masih menjadi dasar dalam memperlakukan orang lain.
Sebagai bangsa yang sedang terus membenahi birokrasinya, kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang dewasa secara emosional, matang dalam relasi kerja, dan adil dalam setiap keputusan. Jabatan bukan karpet merah untuk rasa, tapi tangga berat untuk menegakkan nilai.
Kalau wajah kita masam setiap kali melihat anak buah, itu bukan karena dia salah—mungkin karena hati kita belum cukup lapang untuk menjadi pemimpin.
Penutup:
Kita semua punya rasa. Tapi jangan biarkan rasa itu menutup akal sehat dan etika kita dalam memimpin. Mari menata birokrasi dengan cinta, bukan dengan curiga. Dengan empati, bukan dengan prasangka.
Dan jika hari ini Anda menjadi pemimpin, tanyakan pada diri Anda:
Apakah bawahanku tumbuh karena aku?
Atau justru mundur karena sikapku? (Red)