Prasangka Baik Tak Bisa Menutupi Fakta

Prasangka Baik Tak Bisa Menutupi Fakta
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S. Ag., MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Selama ini, husnuzhan sering dimaknai sebagai kewajiban moral mutlak — seolah-olah jika kita meragukan sesuatu, kita telah melanggar ajaran agama. Padahal, dalam konteks sosial dan birokrasi, prasangka baik yang berlebihan justru bisa menjadi alat pelindung bagi ketidakadilan.

Prasangka baik yang membutakan bisa berubah menjadi tameng bagi korupsi, arogansi, bahkan manipulasi”

Maka perlu dibedakan antara berbaik sangka dan naif. Prasangka baik adalah akhlak, tapi jika digunakan untuk mengabaikan realitas dan membiarkan penyimpangan, maka ia kehilangan nilai kebaikannya.

Sering kali kita hanya membagi sikap menjadi dua: husnuzhan (baik) dan su’uzhan (buruk). Padahal, ada ruang di antaranya yang bisa kita sebut sebagai “kewaspadaan spiritual” — yaitu sikap tidak cepat menuduh, tapi juga tidak gampang dibohongi, Padahal Kewaspadaan spiritual adalah bentuk kematangan iman. Ia tidak langsung menghakimi, tapi juga tidak mudah dibuai.

Jika terus-menerus melihat ketimpangan, manipulasi, dan kemunafikan, maka rasa curiga bukanlah bentuk kebencian, tapi alarm bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Tidak semua prasangka buruk lahir dari keburukan hati. Kadang itu tanda bahwa hati masih hidup, Dalam beberapa kondisi, su’uzhan yang proporsional adalah langkah awal untuk koreksi diri dan koreksi sistem. Ia bisa menjadi batu loncatan menuju perubahan sosial yang lebih sehat, bila disalurkan dengan bijak.

Berprasangka — baik atau buruk — adalah reaksi emosional yang wajar. Namun mengelola prasangka adalah keterampilan batin yang perlu dilatih. Kita tidak bisa menghentikan pikiran yang datang, tapi bisa memilih bagaimana meresponsnya.

Hati yang dewasa bukan yang tak pernah mencurigai, tapi yang mampu mengendalikan kecurigaan tanpa menjadi zalim, Maka, dalam setiap kejanggalan yang kita temui, jangan langsung menghakimi orang… tapi jangan pula mengabaikan bisikan nurani.

Diakhir tulisan ini perlu ditegaskan bahwa di zaman di mana banyak yang menyamar menjadi suci, dan yang jujur sering dibungkam, menjaga prasangka baik tanpa kehilangan logika adalah seni kehidupan.

Jangan takut jika kamu mulai curiga, itu bukan berarti hatimu gelap. Bisa jadi, itu tanda bahwa jiwamu sedang terang. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar