By. Dr. Khairuddin, S.Ag. MA
Dalam kehidupan ini, tidak semua kejahatan lahir dari tindakan besar. Banyak di antaranya justru tumbuh dari akar-akar kecil yang tersembunyi dalam hati manusia. Imam Hasan Al-Bashri, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in yang dikenal dengan ketajaman batin dan kedalaman ilmunya, pernah mengingatkan kita tentang tiga pangkal kejahatan:
> أُصُولُ الشَّرِّ ثَلَاثَةٌ: الْحِرْصُ، وَالْحَسَدُ، وَالْكِبْرُ
“Pangkal segala keburukan ada tiga: keserakahan, hasad (iri dengki), dan kesombongan.”
فَالْكِبْرُ مَنَعَ إِبْلِيسَ مِنَ السُّجُودِ لِآدَمَ، وَبِالْحِرْصِ أُخْرِجَ آدَمُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَالْحَسَدُ حَمَلَ ابْنَ آدَمَ عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ.
Tiga penyakit hati ini bukan hanya ancaman bagi orang-orang terdahulu, tetapi terus hidup dan menyusup dalam berbagai bentuk kejahatan kontemporer—di kantor, di media sosial, bahkan di rumah kita sendiri.
1. Kesombongan: Akar dari Penolakan Kebenaran
Kesombongan telah membuat Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Ia berkata “Aku lebih baik dari dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)
Kesombongan bukan hanya soal meninggikan diri. Ia adalah penolakan terhadap kebenaran karena merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalam dunia birokrasi, kesombongan bisa menjelma dalam bentuk arogansi jabatan. Dalam keluarga, bisa tampil sebagai sikap tidak mau meminta maaf. Padahal, orang yang sombong seringkali justru menghalangi dirinya sendiri dari pertumbuhan dan perubahan.
2. Keserakahan: Ketika “Cukup” Tak Lagi Bermakna
Adam dan Hawa diusir dari surga bukan karena membunuh atau mencuri, tetapi karena melanggar larangan Allah akibat keinginan yang melampaui batas—sebuah bentuk dari ḥirṣ (keserakahan).
Keserakahan membuat manusia lupa batas, menjadikan dunia ini tempat perlombaan tanpa ujung. Kita melihatnya dalam bentuk korupsi, penggelembungan anggaran, bahkan perebutan posisi dengan cara-cara tidak etis. Padahal, kebahagiaan bukan tentang memiliki segalanya, tetapi mampu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki.
3. Hasad: Iri yang Membunuh Dalam Diam
Kisah anak Adam yang pertama kali melakukan pembunuhan berakar dari hasad. Ia tidak membunuh karena lapar atau terancam, tetapi karena iri kepada saudaranya sendiri.
Hasad bukan hanya menginginkan nikmat orang lain, tetapi juga berharap nikmat itu lenyap darinya. Di zaman media sosial, hasad berkembang dalam bentuk yang lebih licik: membandingkan hidup sendiri dengan pencitraan orang lain, merasa tidak puas karena orang lain tampak lebih “berhasil”.
Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu nyata, dan setiap orang memiliki ujian hidup masing-masing.
Ketiga pangkal kejahatan ini—kesombongan, keserakahan, dan hasad—adalah penyakit hati yang dampaknya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Ia merusak akhlak, menghancurkan hubungan, dan pada akhirnya mengikis nilai kemanusiaan kita.
“Jagalah hatimu dari tiga hal: sombong, rakus, dan iri. Karena dosa besar seringkali bermula dari dosa kecil yang dirawat dalam hati.”
Hari ini, mari kita memulai langkah kecil: mengoreksi niat, meredam ego, menahan diri dari membandingkan, dan belajar berkata cukup, Karena dunia ini terlalu singkat untuk dipenuhi dengan dengki, sombong, dan kerakusan.
ingatlah saudaraku…..
Setiap dari kita adalah penjaga bagi hatinya sendiri. Jika kita bisa membersihkan hati dari tiga racun itu, maka dunia akan menjadi lebih damai, dan hidup menjadi lebih bermakna. Mari pulang ke dalam diri dan bertanya: Adakah di hatiku sisa kesombongan, kerakusan, atau hasad yang belum kuperangi? (Red)