Taqwa yang Membumi

Taqwa yang Membumi
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Taqwa adalah kemuliaan. Tapi ketika ia hanya dipamerkan, ia kehilangan cahaya sucinya. Taqwa yang sejati bukanlah tentang berapa panjang jenggot seseorang, berapa sering ia berbicara tentang akhirat, atau seberapa keras ia berzikir di masjid. Taqwa bukan seragam. Ia adalah sikap hidup yang jujur dan rendah hati—bukan yang tinggi hati.

Terlalu sering kita melihat seseorang merasa lebih suci dari orang lain hanya karena lebih sering hadir di majelis taklim, lebih sering berpuasa sunnah, atau hafal banyak doa. Lalu ia memandang remeh orang yang tak sejalan dengannya. Padahal, bisa jadi orang yang dianggap biasa-biasa saja itu, justru lebih mulia di sisi Allah karena kebaikan yang tak tampak dan tanggung jawab yang ia pikul tanpa pamrih.

Taqwa itu bukan untuk meninggi, tapi untuk merendah. Seperti padi, makin berisi, makin menunduk.

Orang yang benar-benar bertaqwa akan semakin rendah hati, bukan tinggi hati. Ia sadar bahwa sebanyak apapun ibadahnya, semua itu hanya karena rahmat Allah. Ia tidak merasa lebih baik dari orang lain, justru merasa takut amalnya tidak diterima.

Arogansi adalah racun halus dalam ibadah. Ia menyelinap dalam doa, menyusup dalam ibadah, lalu menyesatkan kita dari hakikat taqwa. Orang yang bertaqwa, tapi merasa paling benar, paling suci, dan paling dekat dengan Tuhan, mungkin sedang tersesat dalam keangkuhan yang berbungkus agama.

Bayangkan sebuah balon yang melayang tinggi karena dipenuhi angin keakuan. Ia terlihat besar, mencolok, bahkan bisa membuat orang lain memandangnya. Tapi balon itu ringan, kosong, dan mudah pecah. Sedangkan tanah yang membumi, tak pernah meninggi, tapi menjadi tempat tumbuhnya segala kebaikan: pohon, bunga, dan buah.

Taqwa yang membumi adalah taqwa yang terasa dalam sikap sehari-hari. Ia hadir dalam kejujuran seorang pedagang, kesabaran seorang ibu, ketekunan seorang petani, tanggung jawab seorang ayah, dan kepedulian seorang pemimpin. Taqwa bukan alasan untuk menghakimi, tapi alasan untuk memperbaiki diri dan melayani sesama.

Taqwa yang membumi itu adalah Mengangkat martabat manusia, bukan menjatuhkan. Membawa kedamaian, bukan menciptakan jarak. Menyatukan hati, bukan memecah dengan kesombongan rohani.

Jika ibadah membuatmu merasa lebih tinggi dari yang lain, mungkin belum ada taqwa di sana. Tapi jika ibadah membuatmu lebih lembut, lebih sadar diri, dan lebih peduli pada orang lain—itulah tanda bahwa taqwamu mulai membumi.

Tundukkan hatimu sebelum Tuhan menundukkannya. Karena tidak ada yang lebih hina dari orang yang merasa paling mulia. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar