By Dr. Khairuddin MA
Tapaktuan, KBBAceh.news – Sebelum saya menyampaikan permintaan maaf, saya ingin menekankan bahwa tulisan ini tidak bertujuan untuk menyinggung siapapun. Tulisan ini lahir dari kegelisahan pribadi sebagai hasil dari renungan yang mendalam terhadap kenyataan yang ada. Harap dipahami bahwa maksud dari penyampaian ini adalah untuk berbagi perasaan dan refleksi yang jujur tanpa ada niatan buruk atau menyulut kontroversi. Semoga penyampaian ini dapat dipahami dengan hati yang terbuka dan tanpa prasangka.
Diawali dengan sebuah pertanyaan yang berbentuk analogi, yang tujuan akhirnya adalah untuk merangsang pemikiran kritis dan refleksi yang lebih mendalam tentang “Pernahkah kita mendengar tentang sebuah hutan yang dulunya hijau, rimbun, dan penuh kehidupan? Tapi kemudian, ada dua kelompok yang bertikai memperebutkan wilayahnya. Mereka menebang pohon, membakar semak, dan menghancurkan tanah. Api menyala hebat. Burung-burung terbang ketakutan. Sungai-sungai mengering. Tapi akhirnya, perang itu pun reda. Kedua kelompok itu pergi, meninggalkan puing dan abu.
Namun, yang menyedihkan adalah… api kecil yang mereka tinggalkan tak pernah benar-benar padam. Dia menyusup ke akar, membara di bawah tanah. Dan setiap musim kemarau datang, dia muncul kembali menyala, membakar, dan merusak. Generasi baru yang tumbuh di hutan itu, yang tak pernah ikut menebang atau membakar, tetap menjadi korban panasnya api lama.
Saudaraku…
Inilah yang saya sebut “warisan kebencian”.
Sebuah luka lama yang tidak disembuhkan, tapi diwariskan. Sebuah dendam yang tidak diakhiri, tapi dijaga agar tetap hidup. Dua kelompok yang pernah berseteru mungkin sudah lama tiada. Tapi kebencian mereka dilestarikan dalam cerita, dalam lambang, dalam sindiran, dalam prasangka yang tak pernah dipertanyakan.
Dan hari ini… media sosial menjadi hutan kering tempat api itu dengan mudah menyebar.
Satu unggahan menyulut.
Satu komentar memercikkan bara.
Satu narasi penuh luka membuat ribuan orang kembali saling menyalahkan.
Kita berbicara seolah tahu segalanya. Kita membela seolah sedang berjihad. Padahal seringkali, kita hanya sedang menghidupkan dendam orang lain. Kita jadi pion dalam perang yang bukan milik kita. Kita mewarisi kebencian tanpa bertanya: Apakah ini benar? Ataukah hanya sisa abu dari kebohongan masa lalu?
Saudaraku,
Bayangkan jika kita mewarisi tanah dari orang tua, tanah yang penuh potensi, tapi kering karena dulu terbakar perang. Apakah kita akan membiarkannya tetap gersang karena kesalahan generasi sebelumnya? Ataukah kita akan menggali sumur, menanam pohon, dan menyuburkannya kembali agar anak cucu kita bisa hidup dalam damai?
Ingatlah,
Kebencian adalah warisan yang hanya akan membuat kita miskin hati.
Tapi memaafkan adalah keberanian untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Jangan biarkan kita jadi generasi yang hanya pandai membakar, tapi tak bisa menanam.
Jangan jadi penerus luka, tapi jadilah penyembuhnya.
Karena dunia ini tak kekurangan orang pintar, tapi sangat merindukan orang yang mampu menenangkan.
Mari, padamkan warisan kebencian dengan air kasih sayang dan akal sehat.
Dan jika pun harus mewariskan sesuatu, wariskanlah damai. Karena itulah satu-satunya yang mampu menumbuhkan kembali hutan yang terbakar. (Red)