By Dr. Khairuddin, S.Ag. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Tulisan ini sengaja disusun sebagai refleksi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dari berbagai kalangan terkait fenomena umum di lingkungan kerjaโterutama tentang relasi antara pekerja yang gigih dengan atasan yang cenderung pasif. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan atau menyinggung pihak manapun, melainkan sebagai bahan renungan bersama agar tercipta ekosistem kerja yang lebih sehat dan berkeadaban.
Di balik berjalannya roda organisasi yang tampak mulus, sering tersembunyi kisah seorang pekerja tangguh, ia yang tak banyak bicara, tapi banyak bekerja; tak gemar tampil, tapi hasil kerjanya selalu hadir; tak diminta pun sudah menyelesaikan. Ia bekerja bukan karena diperintah, tapi karena merasa bertanggung jawab. Ia berdiri bukan karena dipanggil, tapi karena tak rela melihat yang lain runtuh.
Namun, sayangnya, di balik ketangguhan itu sering kali ada bayang-bayang kepemimpinan yang tak mendukung. Seorang atasan yang bersikap dingin, minim arahan, bahkan kadang tak peduli saat proses berlangsung, namun selalu ingin tahu: โSudah sampai mana?โ atau โMana hasil kerjanya?โ
Atasan seperti ini seperti langit mendung yang tak jadi hujan. Ia hadir menggantung, tapi tak memberi kesejukan.
Pekerja tangguh dalam kondisi ini bukan hanya sedang diuji loyalitasnya, tapi juga kejernihan hatinya. Ia bekerja karena nurani, bukan karena supervisi. Ia terus maju bukan karena dipuji, tapi karena tahu organisasi ini tidak bisa berhenti.
Namun di sisi lain, rasa โtanggung sendiriโ ini bisa menjadi jebakan. Lama-lama, ia merasa seperti pion yang tak berharga: semua beban diletakkan di pundaknya, namun ketika sukses, pujian mengarah ke yang tak terlihat dalam proses.
Seorang teman pernah berkata: โAku ini seperti petani yang menanam sendiri, menyiram sendiri, mencangkul sendiri, lalu saat panen datang, ada yang datang membawa karung dan menagih hasilnya.โ Itu bukan kelakar. Itu luka yang dibalut profesionalisme.
Ada tipe atasan yang seperti ini: jarang terlihat saat tim bekerja keras, tak hadir saat rapat penting, tak peka saat anak buahnya lelah, tapi tiba-tiba aktif bertanya saat laporan dibutuhkan. Ia tak tahu bagaimana proses kerja dijalankan, tapi ingin tahu detail hasil akhirnya, Ia menuntut akuntabilitas, tapi enggan menunjukkan akseptabilitas.
Fenomena ini, jika terus dibiarkan akan melahirkan budaya kerja yang sunyi yaitu Sunyi dari semangat karena pengakuan tak pernah datang, Sunyi dari inovasi karena arah pun tak pernah jelas, Sunyi dari harapan karena lelah bekerja tanpa pemimpin yang benar-benar memimpin.
Bahkan, yang lebih menyedihkan, sunyi dari rasa percaya diri. Sebab, pekerja tangguh sering menjadi terlalu sibuk memperbaiki sistem, hingga lupa memperjuangkan kesejahteraan dirinya sendiri.
Jangan pernah menyesal menjadi kuat. Tapi ingatlah, kekuatanmu bukan untuk terus dimanfaatkan oleh mereka yang malas.
Ketangguhanmu adalah anugerah. Tapi jangan biarkan itu menjadi alasan orang lain bersembunyi di balik bayang-bayangmu.
Atasan yang cuek mungkin tidak akan berubah. Tapi kamu bisa menentukan batas antara ketulusan dan kebodohan, antara loyalitas dan kehilangan diri sendiri.
Dan bila saatnya tiba, jangan takut melangkah ke ruang yang lebih menghargaimuโbukan karena kamu ingin dipuji, tapi karena kamu tahu: orang tangguh pun perlu ruang untuk bertumbuh, bukan sekadar bertahan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pekerja tangguh, jangan bangga hanya karena bisa bertahan. Bertahan itu baik, tapi bertumbuh itu lebih mulia. Karena pada akhirnya, kamu tak dilahirkan hanya untuk menopang orang lain tapi untuk menyinari jalanmu sendiri. (Red)