๐— ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ ๐—๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ ๐—˜๐—ฟ๐—ฎ ๐— ๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ป (Kajian Surah An-Nisaโ€™ Ayat 75)

๐— ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐—ฎ ๐—๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜€ ๐—ฑ๐—ถ ๐—˜๐—ฟ๐—ฎ ๐— ๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ป (Kajian Surah An-Nisaโ€™ Ayat 75)
Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr Khairuddin, S.Ag., MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Di antara ayat Al-Qurโ€™an yang terus relevan melintasi zaman, Surah An-Nisaโ€™ ayat 75 adalah salah satunya. Ayat ini menegur umat Islam agar tidak tinggal diam ketika ada kezaliman dan penindasan.

Artinya : โ€œMengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas baik laki-laki, perempuan maupun anak-anakโ€ฆโ€ (QS. An-Nisaโ€™: 75)

Di masa Nabi Muhammad SAW, ayat ini berbicara tentang kaum muslimin Makkah yang lemah, ditindas oleh Quraisy, tidak berdaya untuk hijrah, dan setiap hari menghadapi siksaan. Namun jika kita berhenti pada konteks sejarah saja, maka makna ayat ini akan kehilangan denyut hidupnya di era modern.

Makna Tuqatilu dan Mustadhโ€˜afรฎn Menurut Tafsir

Menurut Fakhruddin Al-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib, kata ุชูู‚ูŽุงุชูู„ููˆู†ูŽ (Tuqatilu) berarti perintah berperang secara fisik di medan tempur untuk menolong mereka yang ditindas. Inilah jihad yang dikenal dalam sejarah: jihad membebaskan. Sedangkan ุงู„ู…ูุณู’ุชูŽุถู’ุนูŽูููŠู†ูŽ (mustadhโ€˜afรฎn) adalah orang-orang Islam, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang tidak punya kekuatan melawan kezaliman Quraisy.

Mutawalli Al-Syaโ€˜rawi juga menafsirkan demikian: ayat ini menegur umat Islam Madinah agar tidak lupa bahwa di Makkah masih banyak saudara seiman yang menunggu pertolongan.

Ayat ini turun sebagai cambuk moral. Ketika umat Islam Madinah mulai mapan, sebagian ragu untuk terlibat perang. Padahal di Makkah, kaum muslimin lemah berdoa, โ€œYa Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri zalim ini, berilah kami pelindung dan penolongโ€ฆโ€

Doa mereka dijawab Allah bukan dengan mukjizat langsung, tetapi dengan kesadaran kolektif umat Islam yang mau bergerak.

Jika kita lihat di zaman ini, makna Tuqatilu dan mustadhโ€˜afรฎn menuntut pemaknaan baru. Karena konteks dan alat penindasan berubah, maka bentuk jihad juga ikut berubah.

Maka tidak semua jihad membutuhkan pedang. Jihad modern bisa berarti Mendidik umat agar keluar dari kebodohan, Membela kaum tertindas melalui jalur hukum, Melawan korupsi yang merampas hak orang kecil, Mengungkap hoaks, fitnah, dan penipuan digital yang menipu umat, Mengadvokasi hak-hak minoritas yang dirampas kebebasan beribadah.

Dalam medan modern, Tuqatilu adalah melawan kezaliman dengan nalar, data, suara, kebijakan, dan solidaritas.

Sedangkan Mustadhโ€˜afรฎn di masa Nabi adalah kaum muslim yang miskin, tertindas secara fisik. Hari ini, definisi ini lebih luas, Mereka yang haknya dihisap oleh sistem ekonomi rakus, Mereka yang iman dan akal sehatnya dilemahkan budaya konsumerisme, hedonisme, dan kebodohan terencana, Mereka yang tidak berdaya menghadapi tekanan sosial dan politik, Mereka yang terpinggirkan hanya karena status sosial atau keyakinannya.

Pesan besar ayat ini sederhana yaitu sikap Diam adalah ruang hidup bagi penindasan.

Kalau orang-orang yang punya akal, pengetahuan, dan kekuatan memilih diam, maka penindasan akan selalu punya panggung.

Karena itu jihad di masa ini tidak selalu berupa darah dan senjata, melainkan pikiran, advokasi, tulisan, gerakan sosial, dan kebijakan yang membela yang dilemahkan.

Dari penjelasan Surah An-Nisaโ€™ ayat 75 diatas menegaskan: membela yang lemah adalah jihad yang tidak pernah habis dimakan waktu. Setiap orang yang berakal, punya kelebihan ilmu, harta, atau jabatan, mempunyai bagian dalam jihad ini, termasuk membela saudara saudara kita di Palestina.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Wallahu aโ€˜lam bishshawab. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar