๐—ง๐—ฎ๐—พ๐˜„๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—บ๐—ถ

๐—ง๐—ฎ๐—พ๐˜„๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—บ๐—ถ
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin MA

Tapaktuan, KBBAceh.news – Taqwa. Sebuah kata yang begitu akrab di telinga kita. Hampir di setiap khutbah, ceramah, dan pengajian, kata ini disampaikan dengan penuh semangat. Tapi seringkali, pemahaman kita tentang taqwa hanya berhenti pada simbol dan tampilan luar.

Ada anggapan bahwa orang yang taqwa itu pasti selalu berada di masjid, wajahnya serius, bajunya kusut, hidupnya seakan jauh dari dunia. Bahkan tak jarang, ada yang beranggapan bahwa orang yang banyak beribadah itu identik dengan malas bekerja, kurang bertanggung jawab, atau tidak peduli dengan lingkungan sosialnya. Padahal, bukan itu esensi dari taqwa yang sejati.

Taqwa itu bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab. Menjadi ayah yang baik, suami yang peduli, tetangga yang bermanfaat, itu semua adalah bagian dari taqwa. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah sosok yang paling bertaqwa, tetapi juga yang paling aktif, bersih, bertanggung jawab, dan terlibat dalam urusan masyarakat. Beliau pedagang sukses, pemimpin negara, suami yang penuh kasih, dan sahabat yang setia. Apakah ada yang lebih sibuk dari Rasulullah? Tapi beliau tak pernah menjadikan ibadah sebagai alasan untuk mengabaikan amanah hidup.

Taqwa itu bukan penghalang produktivitas, tapi justru penguatnya. Orang yang bertaqwa akan bekerja dengan jujur, penuh semangat, dan niat lillah. Ia tahu bahwa mencari nafkah untuk keluarga adalah ibadah. Ia paham bahwa membantu orang lain adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Ia sadar bahwa menjadi orang yang bersih, rapi, dan menghargai waktu adalah bagian dari akhlak Islam.

Taqwa itu bukan menjauh dari dunia, tapi membawa cahaya Allah ke dalam dunia. Orang yang taqwa tidak sibuk hanya dengan dirinya sendiri. Ia menjadi pelita di tengah masyarakat. Ia dikenal karena kebaikannya, bukan sekadar karena jumlah dzikirnya. Ia hadir di tengah kehidupan, menjadi solusi, bukan sekadar pengamat.

Era modern ini membutuhkan wajah baru dari taqwa: taqwa yang aktif, produktif, dan inspiratif. Bukan taqwa yang menyendiri, tapi taqwa yang membumi. Bukan hanya di sajadah, tapi juga di tempat kerja. Bukan hanya di waktu tahajud, tapi juga di jam-jam sibuk menjalani peran sebagai manusia.

Mari kita redefinisi taqwa, bukan hanya sebagai rasa takut kepada Allah, tapi sebagai komitmen untuk hidup seimbang antara langit dan bumi: beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan semangat, berkeluarga dengan kasih sayang, dan bermasyarakat dengan manfaat.

Orang bertaqwa itu bukan orang yang kotor dan malas. Tapi orang yang bersih, tangguh, amanah, dan bermanfaat. Mari kita buktikan bahwa taqwa adalah kemuliaan, bukan keterasingan. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar