๐—˜๐—ด๐—ผ ๐—ฆ๐—ฝ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น: ๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ ๐—๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ท๐˜‚ ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป

๐—˜๐—ด๐—ผ ๐—ฆ๐—ฝ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น: ๐—ž๐—ฒ๐˜€๐—ผ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ ๐—๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ท๐˜‚ ๐—ง๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

Tapaktuan, KBBAceh.news – Ego spiritual adalah bentuk kesombongan yang paling licikโ€”karena ia tidak muncul dalam bentuk harta, jabatan, atau penampilan, melainkan tersembunyi di balik amal, zikir, ilmu, dan penampilan religius. Tampaknya seperti ketulusan, tetapi sering kali hanyalah topeng dari keangkuhan hati.

Bayangkan kita sedang mendaki sebuah gunung tinggi yang indah. Gunung itu adalah simbol kedekatan dengan Allah, dan jalan setapaknya adalah syariatโ€”aturan dan tuntunan yang harus kita patuhi agar tidak tersesat.

Di awal pendakian, kita patuh mengikuti jalur, saling membantu, dan sadar masih jauh dari puncak. Tapi saat sudah naik cukup tinggi, mulai muncul perasaan:

“Aku sudah lebih tinggi dari yang lain. Aku pasti lebih dekat dengan Tuhan.”

Lalu datanglah kabut tipisโ€”itulah ego spiritual. Tak tampak berbahaya, namun perlahan membuat pendaki lupa arah. Ia mulai melepas peta dan kompas (syariat), karena merasa sudah cukup tinggi dan tak butuh bimbingan. Ia tertawa melihat pendaki lain yang masih di bawah, padahal ia sendiri telah tersesat dalam kabut keangkuhan.

Mereka yang terjebak dalam ego spiritual sering menunjukkan tanda-tanda tertentu yang mencerminkan perasaan superioritas dan kesadaran yang menyesatkan. Misalnya, mereka cenderung merasa telah mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi tentang kebenaran dan memandang orang lain sebagai kurang tahu. Mereka mungkin menganggap diri mereka lebih dekat dengan Tuhan dibandingkan dengan orang lain, yang menciptakan perasaan eksklusivitas dan merendahkan pengalaman spiritual masyarakat umum. Sikap meremehkan syariat, yang dianggap hanya relevan bagi khalayak umum, adalah bentuk lain dari keangkuhan spiritual yang mereka tunjukkan. Dalam pandangan mereka, ulama dan masyarakat belum “tiba” pada pencerahan yang mereka klaim telah mereka capai. Padahal, perjalanan spiritual sejati adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan tidak pernah mencapai titik akhir yang pasti. Kenyataannya adalah bahwa mereka yang diliputi oleh ego spiritual menganggap diri telah mencapai puncak kebenaran, sementara dalam kenyataannya, mereka masih jauh dari memahaminya secara keseluruhan.

Ego spiritual adalah ujian bagi para pencari kebenaran. Ia datang seperti kabut yang lembut, tapi bisa membuat kita tersesat.

Semakin tinggi ilmu dan ibadah kita, semakin harus hati-hati. Jangan sampai kita tergelincir karena merasa lebih tinggi dari orang lain.

Ilmu yang benar membuat hati tunduk. Ibadah yang benar membuat jiwa merendah.

Dan cinta kepada Allah tak membuat kita merasa lebih suci, tapi lebih takut akan kesalahan sendiri.

Semoga kita semua dijauhkan dari jebakan ego spiritual dan senantiasa diberi hati yang bersih, jujur, dan penuh cinta dalam meniti jalan menuju-Nya. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar