Orang Baik Tampak Buruk di Matamu

Orang Baik Tampak Buruk di Matamu
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Khairuddin MA

Tapaktuan, KBBAceh.news – Pada suatu hari seseorang yang sudah sepuh bertanya kepada saya “Pernahkah engkau minum air dari gelas bening, namun merasa aneh karena rasanya tak seperti biasa?” Pertanyaan itu dijawab sendiri bahwa Ketika kau perhatikan lebih dalam, ternyata bukan airnya yang salah, tapi gelas yang kau gunakan sebelumnya pernah diisi kopi pahit dan belum dibersihkan sempurna. Walau air itu sebening embun pagi, rasa dan warnanya bisa terpengaruh oleh sisa-sisa kopi yang menempel di dinding gelas.

Begitulah pergaulan.

Orang-orang yang kita ajak bicara, yang menjadi teman duduk kita sehari-hari, ibarat gelas tempat kita menuangkan pikiran. Jika gelas itu dipenuhi sisa-sisa kecurigaan, dendam, kebencian, dan prasangka buruk, maka sebaik dan sebersih apa pun isi yang dituangkan ke dalamnya, akan tetap terasa keruh.

Bergaul dengan orang jahat bukan hanya soal siapa yang mencuri atau menipu. Tapi siapa pun yang suka menyebar kebencian, menyulut fitnah, membolak-balik kebenaran, dan membuat kita memandang orang lain dengan mata curiga, itu pun bagian dari racun pergaulan.

Tanpa kita sadari, mereka sedang membentuk cara pikir kita. Sedikit demi sedikit. Diam-diam. Lalu tiba-tiba, kita menjadi pribadi yang sulit percaya kepada orang baik, selalu berpikir bahwa setiap senyum pasti ada maksudnya, setiap kebaikan pasti ada udangnya. Kita menjadi penilai dunia berdasarkan luka orang lain, bukan berdasarkan kebenaran yang kita saksikan sendiri.

Lalu kita bertanya-tanya, mengapa hati ini gelisah padahal kita tidak sedang punya masalah besar? Jawabannya bisa jadi karena kita terlalu dekat dengan sumber energi negatif.

Teman yang baik bukan yang banyak bicara manis, tetapi yang jujur dan tidak suka membuatmu membenci orang lain. Teman yang benar bukan yang selalu memihakmu, tapi yang berani mengingatkanmu jika engkau salah.

Carilah teman yang paling sedikit musuhnya. Karena orang seperti ini biasanya berhati teduh. Ia tidak suka menciptakan drama, tidak pandai menyimpan dendam, dan tahu bagaimana menyelesaikan masalah tanpa harus membuat orang lain jatuh.

Bayangkan engkau berjalan di taman yang penuh bunga. Di sana ada satu bagian taman yang penuh duri dan rumput liar. Jika engkau duduk terlalu lama di sana, bukan hanya bajumu yang robek, tapi pandanganmu tentang seluruh taman pun ikut rusak. Engkau akan lupa bahwa ada bunga mekar di tempat lain, hanya karena engkau duduk di sudut yang salah.

Begitu pula hidup ini. Jangan biarkan segelintir orang yang buruk membuatmu kehilangan rasa percaya terhadap orang-orang yang baik.

Percayalah, kebaikan masih ada. Ketulusan masih nyata. Tapi untuk bisa melihatnya, kita perlu membersihkan gelas pergaulan kita terlebih dahulu. Agar air kehidupan yang kita minum. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar