By Dr. Khairuddin MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Pada suatu sore, salah seorang penghulu senior sudah Madya akan menuju Utama bertanya kepada saya tentang gaya bahasa yang saya gunakan dalam setiap tulisan yang saya bagikan di Facebook—terutama karena saya konsisten menulis satu hari satu tulisan. Pertanyaannya sederhana, tapi cukup menggugah saya untuk merenung: “Gaya bahasa apa yang sebenarnya sedang saya gunakan?”
Setelah saya telaah dengan saksama, saya menyadari bahwa tulisan-tulisan saya cenderung menggunakan gaya bahasa reflektif dan naratif-deskriptif. Gaya ini bukan sesuatu yang saya rancang secara formal, melainkan tumbuh secara alamiah dari proses perenungan, pengamatan, dan pengalaman batin yang saya alami sehari-hari.
Untuk lebih rinci dibawah ini saya sebutkan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Reflektif:
Tulisan banyak mengajak pembaca untuk merenung, menyelami kegelisahan batin, dan mempertanyakan nilai-nilai moral serta realitas sosial. Gaya ini menampilkan suara hati penulis, dengan kedalaman emosi dan kontemplasi.
2. Naratif-deskriptif:
Disampaikan melalui alur cerita atau gambaran peristiwa yang menyentuh, seperti “nurani seperti pelita dalam toples,” yang membuat pembaca bisa membayangkan dan merasakan makna yang ingin disampaikan.
3. Analogi dan Metafora:
Banyak digunakan untuk memperkuat pesan, seperti “api kecil dalam toples kaca” yang menggambarkan nurani yang terjebak dalam sistem yang menekan.
4. Bahasa puitis dan melankolis:
Kalimat-kalimatnya halus, dalam, dan kadang menyayat hati, menciptakan nuansa haru dan sunyi, misalnya: “Diam pun jadi pilihan yang menyakitkan, meski terlihat aman.”
Gaya ini sangat cocok untuk tulisan motivasi spiritual dan sosial yang ingin menyentuh hati pembaca secara mendalam. Semoga kita bisa menebar kebaikan. (Red)