KBBAceh.News | Banda Aceh – Di tengah riuh rendah media sosial yang sering dipenuhi caci maki dan perdebatan tak berujung, muncul satu pemandangan yang justru menyejukkan.
Seorang konten kreator perempuan keturunan Tionghoa, Jejezhuang Jessica Juanda. Jujur saja saya tidak begitu mengenal detail profilnya, tetapi pribadi saya sangat terkesima dengan konten – kontennya tentang isi Aceh dari perspektif budaya.
Dari rekam kontennya Jessica terpantau konsisten mengangkat sisi terbaik Aceh. Dalam video-videonya, ia memperkenalkan kuliner halal, menampilkan keindahan wisata alam, hingga menuturkan kisah tentang toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Kontennya sederhana, hanya berbekal kamera ponsel, namun dampaknya terasa besar . Aceh terlihat ramah, indah, dan terbuka bagi siapa saja.
Jujur saya disini merasa malu sebagai asli putra Aceh. Kaca mata Jejeshuang sangat tajam melihat Aceh. Sedangkan kita masih tumpul karena larut dalam dinamika media sosial di Aceh.
Fenomena ini menarik karena Jejezhuang bukan berasal dari Aceh. Ia lahir dan besar dengan latar belakang budaya yang berbeda, bahkan bisa disebut sebagai “orang luar” bukan “awak dalam”.
Namun, cara ia menghormati budaya lokal membuat masyarakat menerimanya dengan tangan terbuka. Dalam teori komunikasi antar budaya, hal ini dikenal dengan pendekatan identitas sosial.
Biasanya, orang cenderung membagi kelompok ke dalam “ingroup” atau kita, dan “outgroup” atau mereka. Orang yang berbeda etnis, agama, atau latar belakang sering kali dianggap bagian dari kelompok luar. Tetapi Jejezhuang berhasil mematahkan sekat itu. Melalui kontennya, ia yang awalnya dianggap “mereka” berubah menjadi bagian dari “kita”.
Bukti penerimaan itu nyata. Ia pernah diundang resmi oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya memperkenalkan Aceh ke dunia luar.
Momen itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah sinyal kuat bahwa masyarakat dan pemerintah Aceh menghargai siapa saja yang tulus mengangkat budaya daerah ini, tanpa memandang perbedaan asal-usul.
Dalam kacamata komunikasi antar budaya, inilah wajah toleransi yang sejati penerimaan yang lahir dari interaksi positif, bukan sekadar slogan.
Kehadiran Jejezhuang juga meruntuhkan stereotip yang sering dilekatkan pada Aceh. Selama ini, tidak sedikit orang di luar daerah yang menganggap Aceh sebagai wilayah yang keras, tertutup, dan penuh aturan.
Narasi seperti itu pelan-pelan terkikis karena ia menunjukkan pengalaman yang berbeda Aceh yang ramah, masyarakat yang hangat, dan suasana yang bersahabat.
Pesannya sederhana namun penting Aceh bisa ramah bagi siapa pun, selama kita datang dengan niat baik dan menghargai budaya yang ada.
Dari sini, ada pelajaran besar bagi para konten kreator lokal. Mengapa justru orang luar yang dengan konsisten mengangkat budaya kita, sementara sebagian kreator lokal lebih banyak menghabiskan energi untuk saling berdebat, mencaci, atau membuat konten yang tidak bermanfaat? Padahal, mereka yang lahir dan besar di Aceh memiliki modal lebih kuat untuk bercerita.
Mereka paham detail budaya, dekat dengan masyarakat, dan punya akses luas ke khazanah adat dan tradisi. Seharusnya justru mereka yang terdepan memperkenalkan kuliner khas, destinasi wisata halal, kearifan lokal, dan wajah toleransi yang selama ini menjadi kebanggaan Aceh.
Kita tidak perlu belajar dari Jezezhuang. Ia sudah membuktikan bahwa promosi budaya tidak harus rumit. Cukup dengan ketulusan, konsistensi, dan rasa hormat pada nilai-nilai lokal, konten sederhana bisa memberi dampak besar.
Bayangkan jika para konten kreator lokal bersatu mengangkat Aceh dengan cara serupa, tentu gaungnya akan lebih besar lagi. Aceh bisa lebih dikenal dunia bukan karena keributan di media sosial, tetapi karena keindahan alam, kekayaan kuliner, serta kerukunan masyarakatnya.
Jejezhuang Jessica Juanda telah menunjukkan bahwa identitas bukan hanya soal etnis atau agama, melainkan soal kepedulian. Ia datang sebagai orang luar, tetapi karena ketulusannya, masyarakat melihatnya sebagai bagian dari kita. Kini, tugas kreator lokal adalah mengambil peran yang sama, bahkan lebih besar.
Berhenti sibuk dengan gaya ” teumeunak” di Tik tok, Gaya hidup yang dianggap sultan tapi gaya komunikasinya tidak mencerminkan kesopanan, berhenti mengikuti konten yang tidak beredukasi.
Pemuda Aceh jangan terjebak oleh jumlah view sang selebgram, jangan hanya lihat kualitas saja, tapi lihatlah bagaimana kuantitas konten itu. Yang banyak followers belum tentu bisa memberikan edukasi bagi umat melainkan untuk hiburan semata yang tak berarah.
Aceh adalah permata di ufuk barat Indonesia. Sudah saatnya kita hentikan narasi Aceh hanya soal perang. Mari bersama mengangkat Aceh, mempromosikannya dari lokal hingga mendunia.
Penulis :
Maulana Amri,M.Sos
(Tulisan ini sudah terbit di acehframe.com)