KBBAceh.News | Jakarta – Keputusan mengejutkan Ketua Umum PSSI Erick Thohir memecat pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, kini menjadi sorotan besar di dunia sepak bola tanah air. Langkah tersebut dinilai terburu-buru dan penuh risiko, tak hanya merugikan secara finansial tetapi juga mengguncang fondasi performa Timnas Indonesia yang telah dibangun selama empat tahun terakhir.
Menurut Effendi, apa yang dibicarakan Valentino Jebret dan mantan pemain legendaris Belanda, Patrick Kluivert, menunjukkan adanya indikasi bahwa proses perekrutan pelatih baru telah dilakukan bahkan sebelum kontrak Shin Tae-yong resmi diakhiri. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa PSSI sudah menyiapkan pengganti bahkan ketika Shin masih aktif menukangi skuad Garuda.
“Kalau seseorang masih bekerja untukmu, tapi kamu sudah membuka wawancara untuk penggantinya di bulan yang sama, itu bukan keputusan yang pantas. Itu langkah tidak profesional dan merusak moral,” kata Valentino Jebret dalam perbincangan yang viral di media sosial.
Namun, kerugian finansial bukan satu-satunya masalah. Sejak kepergian Shin Tae-yong, performa Timnas Indonesia menunjukkan penurunan drastis. Kedisiplinan, intensitas latihan, hingga semangat juang pemain terlihat menurun. Padahal, di bawah asuhan pelatih asal Korea Selatan itu, Timnas Indonesia dikenal memiliki daya juang tinggi dan mampu menahan bahkan menandingi tim-tim besar Asia seperti Arab Saudi, Australia, dan Jepang.
Sebelum diberhentikan, Shin berhasil membawa Indonesia menempati posisi atas klasemen kualifikasi Piala Dunia Asia. Ia berhasil menciptakan harmoni dalam tim yang dihuni banyak pemain muda. Beberapa di antaranya kini menjadi tulang punggung klub-klub top Asia Tenggara. “Kita sebenarnya sedang berada di jalur yang benar. Tapi keputusan ini seperti memutus proses panjang yang penuh perjuangan,” ujar Effendi dengan nada kecewa.
Effendi menilai, sejak awal Kluivert tampak tidak memahami kultur sepak bola Indonesia. “Dia datang dengan nama besar, tapi tanpa strategi yang cocok. Para pemain terlihat kebingungan di lapangan. Kita bukan hanya kehilangan pelatih, tapi juga kehilangan arah permainan,” tegasnya.
Dalam beberapa pertandingan terakhir, Timnas Indonesia gagal mempertahankan performa di ronde keempat kualifikasi. Kekalahan beruntun dan minimnya kreativitas membuat suporter mulai kehilangan kepercayaan. Beberapa kelompok suporter bahkan menyerukan tagar #BringBackSTY di media sosial sebagai bentuk kekecewaan terhadap manajemen PSSI.
Selain aspek teknis, Shin Tae-yong juga dikenal sebagai sosok pembentuk karakter. Ia menanamkan nilai disiplin, etos kerja tinggi, serta semangat pantang menyerah yang belum tentu dimiliki pelatih lain. Ia tak segan menegur pemain yang terlambat latihan, bahkan mencoret nama besar jika tak menunjukkan dedikasi maksimal. Sistem yang diterapkannya juga modern dan terukur, mengombinasikan gaya bermain Korea yang cepat dengan karakter pemain Indonesia yang kreatif.
Warisan Shin Tae-yong tak hanya soal hasil, tetapi juga filosofi. Ia berhasil membangun tim dengan mental baja dan keyakinan bahwa Indonesia bisa bersaing di level internasional. Dalam masa kepemimpinannya, Timnas sempat menembus semifinal Piala Asia U-23 dan mencatatkan kemenangan bersejarah atas tim-tim kuat kawasan ASEAN.
Kini, semua pencapaian itu terasa seperti angin lalu. Publik menilai PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir terlalu berorientasi pada citra dan keputusan jangka pendek tanpa melihat kesinambungan program pembinaan. “Seharusnya PSSI menjaga kesinambungan. Kita tidak sedang butuh revolusi, tapi evolusi. Apa yang dibangun Shin seharusnya dilanjutkan, bukan diakhiri tiba-tiba,” ujar Effendi.
Keputusan untuk memecat Shin Tae-yong telah meninggalkan luka mendalam bagi penggemar sepak bola nasional. Tak sedikit yang merasa bahwa langkah ini merupakan kemunduran besar dalam perjalanan Timnas menuju level dunia. Kini, publik menanti apakah Erick Thohir mampu memperbaiki situasi atau justru memperparah krisis kepercayaan terhadap federasi. (Sumber, Pesawaran Inside)