Hidup ini sejatinya bukan hanya tentang mencari untung, tetapi tentang bagaimana setiap langkah membawa berkah. Itulah pelajaran besar yang saya dapatkan ketika berjumpa langsung dengan Makhrus Arizal, SE, seorang pengusaha batik yang bersama sang isteri menorehkan kisah perjuangan luar biasa—kisah tentang jatuh, sadar, bangkit, dan berjuang tanpa riba.
Awalnya, kehidupan mereka berjalan sebagaimana kebanyakan pengusaha lain: kerja keras siang malam, mengejar omset, membangun jaringan, dan menumpuk modal dengan pinjaman berbunga. Segalanya tampak wajar, sampai satu titik mereka merasakan beban yang tak lagi tertanggungkan—hutang menumpuk, hati gelisah, dan keberkahan terasa hilang. Uang berputar, tapi rezeki terasa hambar.
Namun, dalam kegelisahan itulah hidayah datang dengan cara yang lembut tapi menggetarkan. Seorang wanita datang, menawarkan pinjaman tanpa bunga. Sekilas sederhana, tapi tawaran itu menjadi titik balik spiritual dan ekonomi dalam kehidupan mereka. Saat itulah kesadaran tumbuh: bahwa keberhasilan sejati bukan sekadar bebas dari hutang, tapi bebas dari jerat riba yang mematikan nurani.
Dengan tekad yang bulat, Makhrus dan isterinya menata ulang seluruh pondasi usaha mereka. Tidak lagi bersandar pada pinjaman berbunga, tapi pada doa, kerja keras, dan kejujuran. Mereka yakin, ketika manusia berani meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Waktu pun membuktikan. Dalam tempo yang tidak lama, roda usaha mereka kembali berputar dengan stabil, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Keberkahan mulai nyata—hutang terbayar, pelanggan bertambah, dan hati mereka lapang. “Hidup ini harus punya konsistensi untuk tidak terlibat dalam riba,” kata Mahrus tegas, saat kami duduk di sebuah warung sederhana di Aceh Besar. Kata-katanya bukan sekadar nasihat, tapi gema dari pengalaman yang lahir dari air mata dan keyakinan.
Dari pasangan ini, saya belajar satu hal penting: kesuksesan tanpa keberkahan hanyalah angka tanpa makna, sedangkan rezeki yang berlandaskan kejujuran dan keimanan akan melahirkan ketenangan yang tak bisa dibeli.
Isteri Makhrus, dengan kesabaran dan dukungannya yang tulus, menjadi tiang kokoh dalam perjuangan ini. Ia bukan hanya pendamping hidup, tapi juga penjaga arah. Ketika suami nyaris goyah, ia mengingatkan. Ketika usaha menurun, ia menenangkan. Dan ketika keberhasilan datang, ia tetap merendah.
Hidup mereka kini seperti batik yang indah: disusun dari pola kesabaran, diwarnai oleh ujian, dan dijahit dengan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang berserah sungguh-sungguh.
Makhrus Arizal dan isterinya mengajarkan bahwa riba mematikan nurani, tapi ridha Allah menghidupkan segalanya.
Dan ketika hati sudah mantap di jalan yang halal, maka langkah sekecil apa pun akan menuju pada kemenangan yang hakiki—bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. (By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA)