Jiwa yang Siap Menampung Cahaya

Jiwa yang Siap Menampung Cahaya
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

Tidak ada yang lebih sunyi daripada jiwa yang kosong, tapi juga tidak ada yang lebih berbahaya daripada jiwa yang penuh namun belum bersih. Sebab yang belum bersih, akan membuat jernih menjadi keruh, akan membuat cahaya terlihat seperti bayangan. Maka jangan heran bila ilmu membuat seseorang menjadi sombong, bukan karena ilmunya yang salah, tapi karena jiwanya belum suci saat ilmu itu datang.

Jiwa adalah wadah. Dan setiap wadah, jika ingin diisi sesuatu yang mulia, harus lebih dulu dibersihkan dari kotoran yang menempel. Sebab tak ada gunanya menuang air suci ke dalam bejana yang penuh karat. Sama halnya, tak ada gunanya menampung hikmah jika hati masih penuh prasangka, dendam, dan kerak kesombongan.

Engkau mungkin telah jauh melangkah dalam pencarian makna, telah membaca banyak buku, mendengar banyak nasihat, dan menggenggam banyak ilmu. Tapi mengapa jiwamu masih gelisah? Mengapa hatimu masih mudah terbakar oleh iri, tersinggung oleh hinaan kecil, atau terangkat tinggi oleh pujian?

Barangkali, karena kita lupa: sebelum menerima cahaya, jiwa harus jujur pada gelapnya.

Bukankah gunung tak bisa memantulkan sinar mentari jika ia diselimuti kabut? Begitu pula hati—ia tak bisa memantulkan kebenaran jika masih terbungkus kabut kepentingan diri.

Dan lebih parah lagi, bila kegelapan itu bersatu dengan jabatan. Ketika seseorang belum membersihkan jiwanya, lalu ia duduk di singgasana kekuasaan, maka yang keluar bukan keadilan, tapi kezaliman. Bukan kasih sayang, tapi kesewenang-wenangan. Jabatan yang seharusnya jadi ladang amal, berubah jadi alat menindas. Ia merasa tinggi, lupa bahwa yang di bawah pun punya harga diri.

Apa gunanya tinggi dalam pemahaman, bila rendah dalam kerendahan hati? Apa gunanya banyak tahu, bila tak tahu bahwa semua hanyalah titipan yang akan kembali?

Hati-hati dengan sombong yang tersembunyi di balik kata-kata bijak. Waspadai dengki yang menyamar dalam senyuman palsu. Karena musuh terbesar dalam pencarian kebenaran bukanlah kebodohan orang lain, tapi kerak halus dalam diri sendiri yang enggan dibersihkan.

Wahai jiwa yang sedang berjalan, jangan terburu ingin diisi sebelum siap menampung. Jangan minta diguyur hujan jika tanahmu belum kau olah. Sebab bila air datang pada tanah yang beku, ia hanya akan mengalir sia-sia.

Bersihkanlah terlebih dahulu. Bukan untuk orang lain, bukan agar terlihat baik, tapi agar saat kebenaran datang mengetuk, engkau mampu mengenalinya dan menampungnya dengan utuh. Bukan dengan bias, bukan dengan prasangka, tapi dengan kerendahan hati yang tulus.

Ingatlah: cahaya yang masuk ke dalam jiwa yang bersih akan menjadi suluh. Tapi cahaya yang masuk ke dalam jiwa yang keruh bisa berubah menjadi api yang membakar kesombongan.

Dan engkau, yang sedang mencari makna, tak perlu terburu-buru menjadi terang. Cukup bersihkan wadahmu. Cahaya akan datang dengan sendirinya.

Disarikan dari kitab ihya Ulumuddin (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar