Oleh: Dr. Khairuddin, S. Ag., MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Di balik kemegahan jabatan, kemewahan harta, dan kekuatan fisik yang dahulu disegani, ada satu hal yang jauh lebih bernilai namun sering diabaikan: kepercayaan.
Tak sedikit kita temui sosok yang dahulu dielu-elukan karena kekuasaannya, dipatuhi karena hartanya, atau disegani karena kekuatan fisiknya. Tapi seiring berjalannya waktu, semua itu perlahan menguap. Bukan karena mereka kehilangan harta atau jabatan, tapi karena mereka kehilangan kepercayaan.
Mengapa seseorang tidak dipercaya?
Bukan karena ia miskin. Bukan karena ia sakit. Bukan karena ia tua. Tetapi karena ia terlalu sering berbohong dan mengingkari janji.
Selama berkuasa, ia membangun tembok-tembok kekuasaan di atas kepalsuan. Ia menjanjikan banyak hal, tetapi menepati sedikit. Ia berdiri di podium, berbicara tentang nilai dan komitmen, namun hidup dalam ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan.
Dulu, orang takut melawannya karena ia tampak kuat. Banyak kelompok yang mendapatkan kejayaan di bawah bayangannya. Tapi ketika kekuatan itu melemah, ketika tubuhnya tak lagi segagah dulu, suara-suara yang dulu bisu mulai berbicara. Rasa segan berubah jadi pertanyaan. Rasa hormat berubah jadi keraguan. Bahkan orang-orang terdekat pun kini sulit membela.
Apakah ini semata-mata karena kelemahan fisik? Ternyata Tidak.
Ini karena sejarah kebohongan yang terus diulang.
Kepercayaan itu seperti benang halus—mudah putus, sulit disambung. Dan saat ia putus, semua yang melekat padanya—jabatan, kekayaan, kekuatan—tak lagi mampu menyelamatkan.
Bayangkan seorang pejabat, orang kaya, atau tokoh kuat seperti pohon tinggi. Daunnya rimbun, batangnya menjulang, seolah tak tergoyahkan. Tapi kalau akarnya dimakan rayap, ia tinggal menunggu waktu untuk tumbang. Rayap itu adalah kebohongan, janji palsu, dan pengingkaran amanah.
Saat badai datang—yakni ujian kehidupan, perubahan zaman, atau kelemahan fisik—yang menyelamatkan bukan tinggi pohon itu, tapi kekuatan akarnya. Dan akar itu adalah kepercayaan.
Mengapa Orang Kini Berani Melawan?
Bukan karena mereka lebih kuat. Tapi karena mereka tak lagi percaya. Ketika kepercayaan hilang, rasa takut pun sirna. Dulu mungkin orang diam karena segan, sekarang mereka bicara karena sadar: kekuasaan tanpa kejujuran hanyalah ilusi yang menunggu kehancuran.
Jabatan bisa dicopot. Harta bisa hilang. Kekuatan bisa melemah. Tapi kepercayaan, sekali hilang, bisa menjatuhkan segalanya, bahkan tanpa perlu digulingkan secara fisik.
Jangan bangga dulu dengan kedudukan, kekayaan, atau kekuatan. Semua itu bisa membuat orang tunduk, tapi tak menjamin mereka akan setia. Yang membuat orang setia adalah keteladanan dan integritas. Bukan pencitraan, bukan tekanan, bukan kekuasaan.
Maka, siapa pun kita—pejabat, pemimpin, orang tua, atau tokoh masyarakat—jaga baik-baik kepercayaan. Karena ketika kepercayaan pergi, tak ada harta atau kekuasaan yang bisa membelinya kembali.
Dan jika hari ini kita merasa dijauhi, dilawan, bahkan dipertanyakan, mungkin bukan karena kita telah lemah, tapi karena orang-orang sudah lelah dikhianati.