Nurani yang Terperangkap

Nurani yang Terperangkap
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

KBBAceh.News | Tapaktuan, – Setiap manusia dilahirkan dengan nurani kompas moral yang membedakan benar dan salah. Tapi hari ini, banyak orang yang tahu apa yang benar, namun tak berani membela. Suara hati mereka dibungkam oleh tekanan, takut kehilangan jabatan, takut disingkirkan dari lingkaran. Kejujuran justru bisa menjadi hukuman.

Diam yang dulu dihormati sebagai tanda kebijaksanaan, kini sering menjadi tanda kepasrahan. Orang baik memilih bungkam agar tetap bertahan. Tapi jauh di dalam, nurani yang dikekang itu terus menangis—dalam bentuk rasa bersalah, gelisah, bahkan hampa yang tak bisa dijelaskan.

Bayangkan nurani seperti api kecil di dalam toples kaca tertutup. Ia tetap menyala, tapi kekurangan udara. Lama-lama cahayanya meredup, bukan karena tak mau bersinar, tapi karena lingkungan tak memberinya ruang. Begitulah nasib nurani di tengah sistem yang menekan kejujuran.

Namun selama bara itu belum padam sepenuhnya, harapan masih ada. Ia bisa kembali menyala jika ada yang berani membuka tutup toples walau risikonya besar.

Kita mungkin bukan pengubah sistem besar. Tapi kita bisa menjaga satu hal: jangan biarkan nurani kita mati. Tunjukkan kejujuran meski kecil, tolak satu kebohongan meski ringan. Karena ketika semua orang menyerah, satu suara jujur bisa menjadi nyala baru yang menuntun jalan pulang. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar