Silaturahmi atau Sekedar Status?

Silaturahmi atau Sekedar Status?
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Silaturahmi di zaman sekarang sering tereduksi jadi “mengucapkan selamat via status WhatsApp”. Banyak orang merasa sudah menyambung silaturahmi hanya dengan mengetik “met ultah, panjang umur ya bro” tanpa benar-benar hadir, tanpa peduli lebih jauh.
Yang lebih ironis, kita bisa sabar antre berjam-jam di konser artis idola, tapi kadang enggan meluangkan 30 menit untuk menjenguk saudara sakit. Kita bisa heboh merencanakan reuni SMP, tapi malas menghadiri arisan keluarga.
Pertanyaan yang agak menohok “Apakah kita benar-benar menjaga silaturahmi, atau hanya menjaga “kesan baik” di media sosial?”
Mengawali tulisan ini, perlu saya tampilkan firman Allah di dalam QS. An-Nisā’ ayat 1 yang memiliki makna mendalam dan menjadi pengingat bagi kita semua.
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan (Allah) menciptakan pasangannya dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Ayat ini diawali dengan seruan universal: “Yā ayyuhan-nās” (wahai manusia). Artinya, pesan ini bukan hanya untuk Muslim, tapi untuk semua manusia. Allah mengingatkan bahwa kita semua berasal dari satu jiwa (nafsin wāhidah), yakni Nabi Adam. Dari satu asal-usul yang sama, Allah menumbuhkan keluarga, lalu berkembang menjadi masyarakat dan bangsa.
Ada dua pesan penting yang dikemukakan Darii ayat diatas yaitu : Taqwa kepada Allah — fondasi hidup beradab dan Menjaga silaturahmi — fondasi hidup bermasyarakat.
Dalam Ibnu Katsir dinyatakan bahwa Allah mengingatkan bahwa seluruh manusia satu asal, maka tidak ada keistimewaan ras atau suku kecuali dengan takwa, begitu juga Al-Qurthubi dalam tafsirnya bahwa perintah “ittaqūllāh” (bertakwalah kepada Allah) disebut dua kali dalam satu ayat, menandakan pentingnya takwa sebagai penjaga hubungan sosial, sedang Quraish Shihab menyebutkan bahwa ayat ini adalah dasar etika sosial: hubungan vertikal (dengan Allah) harus berbuah pada hubungan horizontal (dengan sesama manusia).
Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan sabdanya “Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kisah nyata ini terjadi di masa Nabi, ketika kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, mereka tidak punya apa-apa. Lalu kaum Anshar menyambut mereka dengan kasih persaudaraan. Bahkan ada yang rela membagi rumah, kebun, bahkan istrinya (dengan cara diceraikan lalu dinikahkan kembali) demi saudaranya. Ini bukti silaturahmi bukan sekadar “mengunjungi saat Lebaran”, tapi mengorbankan diri demi saudaranya.
Jika kita umpamakan secara sederhana bahwa silaturahmi itu seperti aliran listrik. Kalau kabelnya putus, lampu tidak akan menyala. Begitu juga keluarga: jika hubungan putus, keberkahan hidup ikut padam.
Duhai saudaraku..
Menjaga kekerabatan dan silaturahmi adalah ibadah sosial yang langsung dikaitkan dengan takwa. Putus silaturahmi sama dengan memutus aliran berkah hidup.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar